Foto saya
Mama dua anak, istri dari satu suami. Kini menjalani aktivitas sebagai konselor menyusui, doula persalinan, tukang motret, dan supir pribadinya anak-anak. Rumah ini berisi catatan randomnya, dalam belajar hidup sebagai manusia.

Sabtu, 08 Desember 2007

Papan Pesan


“strategi ala siswa dan dunia kerja, untuk diterapkan oleh Para Mama"


(Telah dimuat di Majalah Parenting Indonesia, Juli 2007)



https://www.childline.org.uk



Sempat vakum selama lebih dari dua setengah tahun, setelah merasa siap “meninggalkan rumah”, saya memutuskan untuk kembali bekerja. Namun ternyata, meskipun keputusan tersebut telah saya perhitungkan dan pikir dengan matang, saya sempat mengalami kegelisahan dan dilema. Pertanyaan demi pertanyaan berjejalan, seolah berloncatan di kepala. 

Akankah anak saya baik-baik saja di rumah bersama pengasuhnya ?”
“Bagaimana kalau suatu hari anak saya sakit ?”
“Kira-kira rumah bagaimana ya, tanpa saya ?”
“Bagaimana kalau ada gempa?”


Rasa berat yang saya alami tak hanya berhenti di situ. Perkembangan kemampuan Vel yang sangat pesat akhir-akhir ini, juga membuat saya jadi maju mundur. Saya sedang mengenalkan Vel dengan membaca menurut metode Glenn Doman. Responnya sangat bagus. Ia terlihat sangat antusias dan enjoy dengan kegiatan itu. Matanya selalu berbinar mendengar kata demi kata yang saya bacakan. Ia juga sudah mulai bisa membaca sendiri dengan benar beberapa kata yang pernah saya ajarkan. Bahkan belakangan, Vel akan meminta sendiri untuk disodori kartu-kartu kosakatanya. “Baca… baca... mama!”, katanya.

Life must go on. Begitu kalimat yang saya gunakan sebagai senjata untuk meneguhkan niat saya kembali. Hari pertama saya masuk kerja hanya tinggal hitungan jari. Mau tak mau, saya harus konsekuen dengan pilihan saya sendiri.

Tiba-tiba saja, saya teringat pada pengalaman saya semasa kuliah. Sebagai mahasiswa yang sedang senang-senangnya menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas, saat itu kamar kos saya seolah dipenuhi oleh berbagai tempelan. Bukan sembarang tempelan semacam stiker atau poster, melainkan tempelan aneka macam notes dan tulisan. Fungsinya, sebagai “pengingat” saya terhadap berbagai tugas yang harus segera dikerjakan, jadwal pekerjaan part time, jadwal aerobik, hingga aneka slogan pembangkit semangat ataupun kata-kata mutiara dari Kahlil Gibran, favorit saya. Harus diakui, (meskipun agak mengotori kamar kos saking banyaknya), kebiasaan itu sangat membantu. Saya yang pada dasarnya sangat pelupa dan suka menunda, jadi lebih terorganisir dan disiplin dalam mematuhi rencana dan jadwal yang ada.

Yup, rasanya kebiasaan lama tersebut bisa saya ulang dan diterapkan kembali, di rumah. Bukankah dengan tulisan, saya bisa tetap mengelola rumah dan “berkomunikasi” dengan Si Mbak sebagai asisten saya? 

Maka, segeralah saya membeli sebuah styrofoam polos ukuran 100x50 cm, beberapa lembar kertas kado yang menarik, paku payung, selotip doubletip dan menyiapkan alat-alat lainnya. Styrofoam tersebut saya bungkus dengan kertas kado, dan bagian belakangnya saya tempel dengan doubletip.

Dalam sekejap, taraaaaa…. Jadilah sebuah papan pesan yang cantik. Papan pesan itu saya tempel di dinding ruang keluarga, pada bagian yang saya rasa paling strategis. Setelah itu, saya pun menyusun “isi pesan” dengan sajian dan bentuk semenarik mungkin. Inspirasinya, bersumber dari ingatan saya terhadap majalah dan koran dinding semasa sekolah.

Dengan semangat empat lima, saya kumpulkan artikel tentang beberapa topik untuk mengisi papan pesan. Artikel-artikel tentang penanganan kejadian darurat, apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa, dan sebagainya, saya ringkas lalu saya tulis dengan spidol warna-warni. Tak lupa saya sertakan daftar nomor-nomor telepon penting yang mencatat nomor telepon kantor kami, polisi, pemadam kebakaran, dokter, tetangga terdekat, orangtua dan kerabat.

Suatu hari, saya membaca sebuah artikel di internet yang berisi tentang strategic thinking. Setelah saya baca dengan seksama, ternyata strategic thinking tak hanya layak diterapkan dalam dunia kerja di kantor, tetapi juga bisa diterapkan di rumah, dalam menangani pekerjaan rumah tangga. Seperti mendapatkan durian runtuh saking senangnya (karena merasa cocok dengan papan pesan saya), saya pun segera membuat working list.
 
Nah, inilah yang saya pelajari dari artikel tersebut :

  • Buat rencana
Di kantor, biasanya kita “dituntut” untuk bisa menentukan rencana kerja beberapa waktu ke depan. Rencana itu biasa terpampang jelas di softboard atau meja kerja. Nah, untuk di rumah, saya pun mulai menyusun menu mingguan dan menempelnya di papan pesan. Manfaatnya, saya jadi lebih mudah menentukan bahan makanan yang harus dibeli dan diracik sebelumnya. (hari sabtu pagi, saya belanja ke pasar dan minggu pagi saya meracik bumbu-bumbu lalu menyimpannya dalam lemari pendingin). Acara memasak pagi-pagi sebelum ngantor jadi nggak ribet lagi. Lumayan menghemat waktu dan tenaga lho !

  • Koordinasikan saja
Pengaturan tugas di rumah juga harus dilakukan dengan jelas, lho. Meskipun pelaksanaannya kemudian bisa lebih fleksibel karena disesuaikan juga dengan kondisi, tetapi “pengaturan tugas” yang jelas akan membuat kita jadi lebih bertanggungjawab.

  • Pelaksanaannya…
Kita tak bisa bekerja sendiri bukan ? Seperti kepada atasan, rekan kerja atau bawahan di kantor yang biasa berhubungan secara lisan atau tulisan via notes atau email, pekerjaan atau pesan untuk orang rumah juga bisa disampaikan secara tertulis pada secarik kertas yang ditempel di papan pesan, kulkas atau white board.

  •  Evaluasi rencana dan pelaksanaannya
Apakah Vel sudah minum vitamin? Apakah titipan untuk tetangga sebelah sudah diberikan? Nah, sepulang kantor saya bisa mengeceknya dari check list yang saya tinggalkan di papan pesan. Setiap selesai mengerjakan “tugas”, daftar tugas yang ada harus diberi tanda.

Selain mengandalkan papan pesan, saya juga meminta Si Mbak untuk tak segan mengabari saya melalui SMS, tentang keadaan rumah atau apa yang sedang dilakukan Vel.
 
“Vel sudah maem, sekarang sedang dibacakan buku cerita”
“di rumah mendung, tapi belum hujan”
“tadi ada pak pos kasih surat”  

Adalah beberapa macam kalimat yang biasa dituliskan Si Mbak dalam SMSnya pada saya. Jika tidak, ia sudah terbiasa menulis pada kertas, lalu menempelkannya pada papan pesan kami.

Seolah tak mau kalah, Vel juga akan menempelkan hasil karyanya berupa coretan crayon, burung dari kertas lipat, atau sekedar tempelan stiker yang bermakna “Kangen Mama” di papan pesan, untuk saya lihat sepulang bekerja.

Kembali ke dilema dan kecemasan tentang rumah yang saya alami, setelah dijalani akhirnya saya merasa cukup percaya diri meninggalkan Vel di rumah bersama pengasuh yang bisa dipercaya. Selebihnya, adalah doa yang tak putus saya panjatkan, agar kami senantiasa dilindungi dan diberi keselamatan.**



5 komentar: