Foto saya
Mama dua anak, istri dari satu suami. Kini menjalani aktivitas sebagai konselor menyusui, doula persalinan, tukang motret, dan supir pribadinya anak-anak. Rumah ini berisi catatan randomnya, dalam belajar hidup sebagai manusia.

Sabtu, 08 Desember 2007

Lomba Foto


Ketika mengikutsertakan anak pada sebuah lomba, benarkah kita melatih rasa percaya dirinya... atau justru sebaliknya?


Oleh : Dyah Pratitasari
Dipublikasikan dalam Majalah Parenting Indonesia, Oktober 2006

Pagi itu, saya sangat kesal karena gagal mengarahkan Vel beraksi di depan kamera. Saya ingin ia memainkan kulintang, drum, atau merangkak, mengejar bola, ... pokoknya apa saja yang menunjukkan kepintarannya – sesuai tema lomba foto yang akan kami ikuti saat itu. 

Sayang, Vel malah asik sendiri. Ekspresinya datar, dan beberapa kali menguap karena mengantuk. Ketika saya sodori mainannya, eeh... dia malah menangis!

“Vel masih ngantuk tuh. Kasihan... besok lagi deh kalo Vel memang sedang pengen main“, kata suami saya. 

Saya langsung menyambut ucapannya, "Kapan lagi kalo ngga sekarang, besok kan fotonya harus sudah kirim. Mumpung sinar mataharinya lagi bagus banget, nih!“.

Menurut beberapa artikel dan buku tentang fotografi yang saya baca, foto outdoor terbaik akan dapat dihasilkan jika foto dilakukan saat berada pada kondisi cahaya minimal. Misalnya saat matahari akan terbit atau sore hari saat matahari akan tenggelam. Karena itulah, saya bersemangat mengajak Vel dan suami untuk "pemotretan“ pagi hari di taman dekat rumah. Demi mengikuti lomba foto bayi, yang diselenggarakan oleh salah satu mall di kawasan Jakarta Selatan.

Alhasil, sesi pemotretan tetap berjalan dan saat melihat hasil foto di komputer, saya ngomel tak karuan, "Papa nih ngambil angle-nya kurang pas, ngga fokus!“. Bahkan Vel pun kena semprotan saya juga, "Velma gimana sih, kok ngga mau senyum, ngga mau kejar bolanya, kalo gini terus adek ngga bisa menang lomba foto lho!“

Hari itu, perasaan saya campur aduk. Sia-sia rasanya saya mendandani Vel sekian rupa agar tampak menarik dan eye catching di depan lensa. Seharian, energi yang saya keluarkan adalah energi negatif. Semua terasa tidak nyaman. Bahkan weekend yang seharusnya saya nikmati bersama suami dan anak berlalu begitu saja karena saya bete, gara-gara foto Vel urung saya kirim karena saya anggap “Percuma juga dikirim. Ngga bakalan menang”.

***

Lamunan saya terbuyarkan oleh tepukan tangan suami. Ia mengajak saya beranjak dari tempat saya menonton lomba lukis anak-anak di sebuah mall. 

Menyaksikan kejadian di tempat lomba itu rasanya seperti menyaksikan diri saya sendiri. Dalam lomba lukis itu, tampak beberapa orang ibu yang sibuk mendampingi anaknya berlomba. Sama sibuknya dengan saya pagi itu. Bedanya, ibu-ibu ini sibuk mengomentari putra-putrinya yang sedang melukis.. “Yaaah, warnanya jangan pake yang itu dong, Nak. Pakai yang ini saja,” kata seorang ibu sambil menyodorkan sebuah cray├│n dengan warna setingkat lebih tua. 

Ibu yang lain seperti tak mau kalah, beliau malah ikut mewarnai lukisan anaknya, “biar warnanya ngga keluar garis”, begitu komentarnya. Ibu yang satunya lagi sibuk “mendikte”, pohonnya diwarnai anu, mobilnya pakai warna anu, gambarnya ditambah anu, dst. Teguran panitia tak dihiraukan lagi. Sambil sembunyi-sembunyi, mereka tetap berusaha mengarahkan putra-putrinya yang sedang berlomba. Agar hasil karya bocah-bocah lugu itu sesuai dengan keinginan orangtuanya.

Saya jadi malu. Rasanya seperti melihat diri saya sendiri pada sosok ibu-ibu itu. Dalam sebuah lomba, yang pesertanya bukan saya, lha kok malah saya yang senewen. Sedemikian bersemangatnyakah saya saat itu demi mengharap Vel bisa memenangkan lomba? 

Saya tertuntun untuk berpikir lebih dalam:
Apa sih, yang menjadi niat saya mengikutsertakan Vel dalam lomba?
Saya ingin melatih rasa percaya dirinya sejak dini.
Saya  juga ingin mengeksplorasi kemampuannya, semaksimal mungkin.

Namun, apakah yang saya lakukan ini akan melatih rasa percaya dirinya? Dengan mendikte keputusan-keputusannya, mematahkan ide-idenya dan kemudian menggantinya dengan ide-ide saya? 

Bagaimana mungkin Vel bisa mengeksplorasi kemampuannya jika dalam lomba bukan ia yang berperan aktif, tapi saya? 

Bagaimana mungkin Vel menjadi percaya diri dengan kemampuannya, jika saya selalu mengomentari langkahnya dan menilai "bagus" atau "tidak" karyanya melalui kacamata saya?

Rasanya saya mulai menyadari bahwa keinginan menjadikannya lebih percaya diri dan mengeksplorasi semua kemampuannya hanyalah kedok semata. Senjata untuk memenangkan  ambisi terpendam saya sendiri. 

Apa yang saya lakukan pada Vel adalah bukti keegoisan saya. Bahkan tanpa saya sadari, saya tak peduli pada perasaan Vel dan akibat perbuatan saya itu pada perkembangan jiwanya :(

Ya Tuhan, maafkan saya
Maafkan Mama ya, Vel…

Sejak saat itu, saya sadar:
Kompetisi hanyalah motivasi untuk menggali potensi. 
Bukan ajang menyalurkan ego pribadi.

Sejak saat itu pula, Vel resmi bebas menentukan sendiri gaya yang disukainya. 
Gaya yang sesuai dengan spontanitasnya, mengalir dari dirinya sendiri.
Gaya yang sesuai dengan kepribadiannya, senang berpikir dan mengamati.











Tugas saya dari balik lensa hanyalah memfasilitasi, dan merekam ekspresi murninya. 
Itu saja :)

"Kita sering terperangkap oleh pikiran dan ego. Itulah yang membuat kita sulit menemukan kelebihan orang lain" ~ anonim

1 komentar:

  1. iya mbak,bener banget.dulu aku juga memiliki ambisi untuk ngikutin lomba2 foto di majalah.sampe akhirnya,kita nggak pernah menang sekalipun:)ya udah..saking kolotnya dan mungkin udah putus asa juga,kita gak pernah lagi ngikutin lomba2 serupa.heheee.....
    sekarang aku dan suami belajar bagaimana mendidik anak tanpa paksaan dan tuntutan.ternyata melihat anak kita bahagia dengan dunianya jauh lebih membuat kita bahagia.apalagi dengan kejutan2 yang mereka berikan untuk kita yang gak pernah terpikir oleh kita sebelumnya.bahagia bangettt rasanya.........:)

    BalasHapus