Foto saya
Mama dua anak, istri dari satu suami. Kini menjalani aktivitas sebagai konselor menyusui, doula persalinan, tukang motret, dan supir pribadinya anak-anak. Rumah ini berisi catatan randomnya, dalam belajar hidup sebagai manusia.

Sabtu, 08 Desember 2007

Mama, Aku Ingin Sakit....!!!!


”Asyik deh kalau aku sakit, bisa ditemani mama terus..”

Oleh : Dyah Pratitasari
(dipublikasikan oleh Majalah Parenting Indonesia, Juni 2007)

“Ta, aku ke rumahmu ya ?”, begitu kata Rika sahabatku, suatu pagi di hari Minggu dalam teleponnya. Lho lho, lho! Bukannya tidak mau ia berkunjung. Aku hanya sedikit terkejut dengan nada bicaranya yang sedikit gelisah. ”Pengen kangen-kangenan sama kamu dan Velma”, katanya. Kebetulan, hari itu aku memang sedang tidak ada acara. Papanya Vel pun kebetulan sedang ada urusan dinas di luar kota. Jadi, aku dan Vel menghabiskan akhir minggu di rumah saja.

”Haiiii... aduuhh, kangen banget !!!”, Rika datang bersama Luna (3 tahun) dan pengasuhnya. Ia langsung memelukku erat. Ya, meskipun kami tinggal satu kota, kesibukan masing-masing membuat kami tak pernah berjumpa. Paling-paling, hanya saling mengirim kabar melalui email dan Friendster. Terakhir kali bertemu, ia menengokku di rumah sakit saat melahirkan Vel. Wah, sudah hampir 1,5 tahun kami tidak berjumpa!

”Gimana, ada cerita promosi jabatan apa lagi, nih “, tanyaku sambil bercanda.

Rika sahabatku yang satu ini, hebat sekali. Dalam pandanganku, ia adalah salah satu ”supermom” yang sanggup menjalani dua dunia sekaligus : karir dan rumah tangga. Curhat-curhat dalam emailnya, sebagian menceritakan tentang perkembangan karirnya yang menurutku, fantastis. Tidak heran, seniorku di bangku kuliah ini memang cerdas dan ambisius. ”Berkeluarga nggak akan menghalangi niatku untuk berkarir!”, katanya, beberapa tahun yang lalu, saat kami masih sama-sama duduk dalam bangku kuliah.

”Kayanya aku mau resign aja”, ujarnya murung. Lho! Ada apa ini. Ucapannya terdengar seperti halilintar di telingaku. Sangat kontras, jika dibandingkan dengan sosok Rika yang telah melekat dalam pikiranku selama bertahun-tahun. ”Ada apa sih, sebenarnya ?”. Aku mulai tertarik dengan ceritanya. Ini pasti hal yang serius. Velma pun kuserahkan pada Si Mbak, untuk mengajak Luna dan pengasuhnya bermain bersama di sudut ruang keluarga.

”Dua minggu yang lalu Luna demam tinggi sekali, sampai 40 derajat Celcius. Sejak lahir, Luna nggak pernah demam setinggi itu. Tapi anehnya, dokter bilang ia tidak apa-apa. Hanya butuh istirahat. Dokter juga hanya memberinya suplemen vitamin. Selama ia sakit, aku cuti. Selama itu juga, Luna minta aku menemani segala aktivitasnya. Makan, mandi, main, tidur, membaca dongeng.. semuanya. Pokoknya dia nempel aku terus, sama sekali nggak mau kutinggal bahkan untuk mandi sekalipun. Dan, tahu nggak dia bilang apa waktu sembuh dari sakitnya ?”, cerita Rika dengan menggebu-gebu.

”Apa ?”, Aku mulai penasaran.
Tiba-tiba, saat aku sedang menyuapinya, dia bilang : ”Mama, aku ingin sakit aja”.
”Lho, kok bisa ?”. Terkejut juga aku dengan ceritanya.
”Waktu itu aku juga kaget luar biasa dengan ucapannya. Setelah aku tanya pelan-pelan kenapa ingin sakit, ternyata dia bilang bahwa kalau dia sakit, dia malah senang. Soalnya aku ada di sampingnya terus”, jawab Rika. Air matanya mulai menggenang. Sambil menyodorkan tissue, aku menyimak ceritanya dengan seksama.

Luna bilang, ”Asyik kalau aku sakit. Bisa maem sama mama, bobo sama mama, mandi sama mama, main sama mama. Pokoknya enak!”. Setelah menyelesaikan kalimatnya inilah air mata Rika menetes, lalu mengalir deras.

”Sepertinya selama ini aku salah besar. Aku sudah melupakan Luna. Kupikir, dengan diasuh suster berpengalaman sehari-harinya, mengajaknya ke mall dan membeli mainan di akhir minggu, itu sudah cukup untuk menebus waktuku yang terpakai untuk bekerja. Ternyata tidak!! Bagaimana lagi, sepulang bekerja tenagaku sudah habis. Sedikit sekali waktu berkualitas yang bisa kusediakan untuknya”. Rika menggigit bibir bawahnya, lalu melanjutkan ucapannya. “Kejadian Luna demam tinggi kemarin seperti teguran keras dari Tuhan. Di saat yang bersamaan, aku memang sedang mempertimbangkan tawaran beasiswa S3 ke Inggris. Bahkan sudah terbayang rencana, Luna akan kutitipkan pada eyangnya saja di Yogya”.

Saya melongo. Ya ampun… Jujur saja, saat itu aku tak tahu harus berkata dan berbuat apa, kecuali mengusap punggung Rika dengan harapan bisa membuatnya sedikit lebih tenang.

“Suamimu, bilang apa dengan rencanamu itu?”, tanyaku.
“Sebenarnya kurang setuju juga. Tapi, yah.. dia tahu watakku sejak dulu”, jawabnya sambil menarik nafas.
”Bagaimana dengan pendapatmu ?”

Aku terkejut lagi dengan pertanyaannya yang tiba-tiba. Selama ini, Rika menjadi salah seorang wanita yang menjadi “idola”ku. Bahkan, tak jarang aku begitu iri dengan prestasinya. Apa sih yang tidak dimiliki Rika ??? Keluarga, materi, karir, semuanya tercukupi. Di mataku, ia juga seorang wanita karir yang tidak melupakan keluarga. Aku tahu pasti usaha kerasnya memperhatikan suami dan anaknya, di sela-sela tenaganya yang tersisa. Tapi, ternyata ada hal lain yang belum kuketahui. Tentang kegelisahannya, yang kebetulan, tidak kurasakan sendiri.

Ya, aku jadi lebih bersyukur sekarang. Setidaknya, aku tak perlu ”bersusah-susah” minta ijin atau cuti hanya untuk menemani Vel ke dokter untuk imunisasi. Aku masih bisa memandikan Vel setiap pagi dan sore hari. Aku bisa mengajaknya bermain setiap hari, membacakan dongeng, ataupun sekedar mengajaknya berjalan-jalan di sekitar rumah kami. Aku bisa mengatur waktu kerjaku sendiri. Hal-hal yang mungkin tidak akan bisa kulakukan jika bekerja full time seperti Rika, meski punya penghasilan tetap dan jenjang karir yang bergengsi.

”Rika, kupikir setiap pilihan ada konsekuensinya. Kalaupun kamu berhenti bekerja, permasalahannya tidak semudah membalikkan telapak tangan”, kataku, mencoba memberinya saran.

”Maksudmu ?”
”Untuk wanita yang biasa bekerja, berhenti bekerja lalu sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga bukan hal mudah. Banyak sekali dilema di dalamnya. Karena juga akan banyak hal yang berubah. Masalah finansial, aktualisasi diri, adaptasi, semua harus dipertimbangkan masak-masak. Intinya, kamu harus siap lahir batin”.

Rika memandangku dengan tajam. ”Lalu, aku harus bagaimana ?”

Sulit juga pertanyaan Rika yang satu ini. Karena menjawabnya, membuatku merasa seperti harus menasihati diri sendiri.

”Peristiwa sakitnya Luna, dan juga ungkapannya tentang ”dia ingin sakit saja” memang bisa jadi teguran dari Tuhan, Rika. Tapi kurasa berhenti bekerja bukan satu-satunya jalan keluar. Ada beberapa hal lain yang bisa dipertimbangkan. Misalnya, mempertimbangkan kembali rencanamu menerima tawaran beasiswa ke luar negeri. Bisa juga dengan belajar menerapkan manajemen waktu dan pikiran dengan lebih baik lagi, sehingga kamu punya lebih banyak waktu berkualitas untuk Luna. Kalaupun kamu sudah mantap untuk berhenti bekerja, maka bekerja dari rumah, mengambil pekerjaan freelance atau part time rasanya juga bisa jadi pilihan”, kataku.

Rika menyimak kata-kataku dengan penuh perhatian. Syukurlah, tak berapa lama kemudian senyumnya mulai mengembang. ”Benar juga ya, ucapanmu itu. Latihan meditasi atau relaksasi sebentar sebelum pulang kantor mungkin bisa jadi pilihan supaya tenagaku ”terisi” lagi. Sambil mikir pelan-pelan sebelum akhirnya aku bisa mengambil keputusan”.

”Nah.. ada ilham, kan ??”, aku mencoba mengajaknya bercanda.

”Jadi ngiri sama kamu nih. Dengan banyak menghabiskan waktu bersama anak, pasti kamu nggak pernah merasa seperti aku, kan ? Velma beruntung punya mama seperti kamu”, kata Rika.

Siapa bilang?
Seandainya saja Rika tahu bahwa aku pun pernah begitu iri padanya. Tak apa, yang penting sekarang aku tahu bahwa setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi, keuntungan dan kerugian sendiri.


*****

4 komentar:

  1. Ta...bukannya "tanggung jawab" seseorang(perempuan) menikah dan berkarir adalah seperti itu.Aku sih belum pernah tau rasanya punya anak cause aku belum nikah. Cuma liat temen2 di kantorku bisa maklum banget dech kalau pagi2 ada sms masuk minta ditangani klien2 mereka karena pembantu gak masuk atau anak2 yang tiba2 sakit. Singkatnya sudah jadi pilihan hidup yang seharusnya udah kebayang. Intinya "bismillah" niat yang baik hasilnya PASTI ok juga kok.

    BalasHapus
  2. nice article
    purwati
    http://purwatiwidiastuti.wordpress.com
    http://purwati-ningyogya.blogspot.com
    http://purwatining.multiply.com

    BalasHapus
  3. tidak pelak, ini adalah tulisan terkreatif dlm menyusun syahdu lembut cerita yang pernah kubaca.. ^^ bravo prita..

    BalasHapus