Foto saya
Mama dua anak, istri dari satu suami. Kini menjalani aktivitas sebagai konselor menyusui, doula persalinan, tukang motret, dan supir pribadinya anak-anak. Rumah ini berisi catatan randomnya, dalam belajar hidup sebagai manusia.

Sabtu, 08 Desember 2007

Papan Pesan


“strategi ala siswa dan dunia kerja, untuk diterapkan oleh Para Mama"


(Telah dimuat di Majalah Parenting Indonesia, Juli 2007)



https://www.childline.org.uk



Sempat vakum selama lebih dari dua setengah tahun, setelah merasa siap “meninggalkan rumah”, saya memutuskan untuk kembali bekerja. Namun ternyata, meskipun keputusan tersebut telah saya perhitungkan dan pikir dengan matang, saya sempat mengalami kegelisahan dan dilema. Pertanyaan demi pertanyaan berjejalan, seolah berloncatan di kepala. 

Akankah anak saya baik-baik saja di rumah bersama pengasuhnya ?”
“Bagaimana kalau suatu hari anak saya sakit ?”
“Kira-kira rumah bagaimana ya, tanpa saya ?”
“Bagaimana kalau ada gempa?”


Rasa berat yang saya alami tak hanya berhenti di situ. Perkembangan kemampuan Vel yang sangat pesat akhir-akhir ini, juga membuat saya jadi maju mundur. Saya sedang mengenalkan Vel dengan membaca menurut metode Glenn Doman. Responnya sangat bagus. Ia terlihat sangat antusias dan enjoy dengan kegiatan itu. Matanya selalu berbinar mendengar kata demi kata yang saya bacakan. Ia juga sudah mulai bisa membaca sendiri dengan benar beberapa kata yang pernah saya ajarkan. Bahkan belakangan, Vel akan meminta sendiri untuk disodori kartu-kartu kosakatanya. “Baca… baca... mama!”, katanya.

Life must go on. Begitu kalimat yang saya gunakan sebagai senjata untuk meneguhkan niat saya kembali. Hari pertama saya masuk kerja hanya tinggal hitungan jari. Mau tak mau, saya harus konsekuen dengan pilihan saya sendiri.

Tiba-tiba saja, saya teringat pada pengalaman saya semasa kuliah. Sebagai mahasiswa yang sedang senang-senangnya menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas, saat itu kamar kos saya seolah dipenuhi oleh berbagai tempelan. Bukan sembarang tempelan semacam stiker atau poster, melainkan tempelan aneka macam notes dan tulisan. Fungsinya, sebagai “pengingat” saya terhadap berbagai tugas yang harus segera dikerjakan, jadwal pekerjaan part time, jadwal aerobik, hingga aneka slogan pembangkit semangat ataupun kata-kata mutiara dari Kahlil Gibran, favorit saya. Harus diakui, (meskipun agak mengotori kamar kos saking banyaknya), kebiasaan itu sangat membantu. Saya yang pada dasarnya sangat pelupa dan suka menunda, jadi lebih terorganisir dan disiplin dalam mematuhi rencana dan jadwal yang ada.

Yup, rasanya kebiasaan lama tersebut bisa saya ulang dan diterapkan kembali, di rumah. Bukankah dengan tulisan, saya bisa tetap mengelola rumah dan “berkomunikasi” dengan Si Mbak sebagai asisten saya? 

Maka, segeralah saya membeli sebuah styrofoam polos ukuran 100x50 cm, beberapa lembar kertas kado yang menarik, paku payung, selotip doubletip dan menyiapkan alat-alat lainnya. Styrofoam tersebut saya bungkus dengan kertas kado, dan bagian belakangnya saya tempel dengan doubletip.

Dalam sekejap, taraaaaa…. Jadilah sebuah papan pesan yang cantik. Papan pesan itu saya tempel di dinding ruang keluarga, pada bagian yang saya rasa paling strategis. Setelah itu, saya pun menyusun “isi pesan” dengan sajian dan bentuk semenarik mungkin. Inspirasinya, bersumber dari ingatan saya terhadap majalah dan koran dinding semasa sekolah.

Dengan semangat empat lima, saya kumpulkan artikel tentang beberapa topik untuk mengisi papan pesan. Artikel-artikel tentang penanganan kejadian darurat, apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa, dan sebagainya, saya ringkas lalu saya tulis dengan spidol warna-warni. Tak lupa saya sertakan daftar nomor-nomor telepon penting yang mencatat nomor telepon kantor kami, polisi, pemadam kebakaran, dokter, tetangga terdekat, orangtua dan kerabat.

Suatu hari, saya membaca sebuah artikel di internet yang berisi tentang strategic thinking. Setelah saya baca dengan seksama, ternyata strategic thinking tak hanya layak diterapkan dalam dunia kerja di kantor, tetapi juga bisa diterapkan di rumah, dalam menangani pekerjaan rumah tangga. Seperti mendapatkan durian runtuh saking senangnya (karena merasa cocok dengan papan pesan saya), saya pun segera membuat working list.
 
Nah, inilah yang saya pelajari dari artikel tersebut :

  • Buat rencana
Di kantor, biasanya kita “dituntut” untuk bisa menentukan rencana kerja beberapa waktu ke depan. Rencana itu biasa terpampang jelas di softboard atau meja kerja. Nah, untuk di rumah, saya pun mulai menyusun menu mingguan dan menempelnya di papan pesan. Manfaatnya, saya jadi lebih mudah menentukan bahan makanan yang harus dibeli dan diracik sebelumnya. (hari sabtu pagi, saya belanja ke pasar dan minggu pagi saya meracik bumbu-bumbu lalu menyimpannya dalam lemari pendingin). Acara memasak pagi-pagi sebelum ngantor jadi nggak ribet lagi. Lumayan menghemat waktu dan tenaga lho !

  • Koordinasikan saja
Pengaturan tugas di rumah juga harus dilakukan dengan jelas, lho. Meskipun pelaksanaannya kemudian bisa lebih fleksibel karena disesuaikan juga dengan kondisi, tetapi “pengaturan tugas” yang jelas akan membuat kita jadi lebih bertanggungjawab.

  • Pelaksanaannya…
Kita tak bisa bekerja sendiri bukan ? Seperti kepada atasan, rekan kerja atau bawahan di kantor yang biasa berhubungan secara lisan atau tulisan via notes atau email, pekerjaan atau pesan untuk orang rumah juga bisa disampaikan secara tertulis pada secarik kertas yang ditempel di papan pesan, kulkas atau white board.

  •  Evaluasi rencana dan pelaksanaannya
Apakah Vel sudah minum vitamin? Apakah titipan untuk tetangga sebelah sudah diberikan? Nah, sepulang kantor saya bisa mengeceknya dari check list yang saya tinggalkan di papan pesan. Setiap selesai mengerjakan “tugas”, daftar tugas yang ada harus diberi tanda.

Selain mengandalkan papan pesan, saya juga meminta Si Mbak untuk tak segan mengabari saya melalui SMS, tentang keadaan rumah atau apa yang sedang dilakukan Vel.
 
“Vel sudah maem, sekarang sedang dibacakan buku cerita”
“di rumah mendung, tapi belum hujan”
“tadi ada pak pos kasih surat”  

Adalah beberapa macam kalimat yang biasa dituliskan Si Mbak dalam SMSnya pada saya. Jika tidak, ia sudah terbiasa menulis pada kertas, lalu menempelkannya pada papan pesan kami.

Seolah tak mau kalah, Vel juga akan menempelkan hasil karyanya berupa coretan crayon, burung dari kertas lipat, atau sekedar tempelan stiker yang bermakna “Kangen Mama” di papan pesan, untuk saya lihat sepulang bekerja.

Kembali ke dilema dan kecemasan tentang rumah yang saya alami, setelah dijalani akhirnya saya merasa cukup percaya diri meninggalkan Vel di rumah bersama pengasuh yang bisa dipercaya. Selebihnya, adalah doa yang tak putus saya panjatkan, agar kami senantiasa dilindungi dan diberi keselamatan.**



Mama, Aku Ingin Sakit....!!!!


”Asyik deh kalau aku sakit, bisa ditemani mama terus..”

Oleh : Dyah Pratitasari
(dipublikasikan oleh Majalah Parenting Indonesia, Juni 2007)

“Ta, aku ke rumahmu ya ?”, begitu kata Rika sahabatku, suatu pagi di hari Minggu dalam teleponnya. Lho lho, lho! Bukannya tidak mau ia berkunjung. Aku hanya sedikit terkejut dengan nada bicaranya yang sedikit gelisah. ”Pengen kangen-kangenan sama kamu dan Velma”, katanya. Kebetulan, hari itu aku memang sedang tidak ada acara. Papanya Vel pun kebetulan sedang ada urusan dinas di luar kota. Jadi, aku dan Vel menghabiskan akhir minggu di rumah saja.

”Haiiii... aduuhh, kangen banget !!!”, Rika datang bersama Luna (3 tahun) dan pengasuhnya. Ia langsung memelukku erat. Ya, meskipun kami tinggal satu kota, kesibukan masing-masing membuat kami tak pernah berjumpa. Paling-paling, hanya saling mengirim kabar melalui email dan Friendster. Terakhir kali bertemu, ia menengokku di rumah sakit saat melahirkan Vel. Wah, sudah hampir 1,5 tahun kami tidak berjumpa!

”Gimana, ada cerita promosi jabatan apa lagi, nih “, tanyaku sambil bercanda.

Rika sahabatku yang satu ini, hebat sekali. Dalam pandanganku, ia adalah salah satu ”supermom” yang sanggup menjalani dua dunia sekaligus : karir dan rumah tangga. Curhat-curhat dalam emailnya, sebagian menceritakan tentang perkembangan karirnya yang menurutku, fantastis. Tidak heran, seniorku di bangku kuliah ini memang cerdas dan ambisius. ”Berkeluarga nggak akan menghalangi niatku untuk berkarir!”, katanya, beberapa tahun yang lalu, saat kami masih sama-sama duduk dalam bangku kuliah.

”Kayanya aku mau resign aja”, ujarnya murung. Lho! Ada apa ini. Ucapannya terdengar seperti halilintar di telingaku. Sangat kontras, jika dibandingkan dengan sosok Rika yang telah melekat dalam pikiranku selama bertahun-tahun. ”Ada apa sih, sebenarnya ?”. Aku mulai tertarik dengan ceritanya. Ini pasti hal yang serius. Velma pun kuserahkan pada Si Mbak, untuk mengajak Luna dan pengasuhnya bermain bersama di sudut ruang keluarga.

”Dua minggu yang lalu Luna demam tinggi sekali, sampai 40 derajat Celcius. Sejak lahir, Luna nggak pernah demam setinggi itu. Tapi anehnya, dokter bilang ia tidak apa-apa. Hanya butuh istirahat. Dokter juga hanya memberinya suplemen vitamin. Selama ia sakit, aku cuti. Selama itu juga, Luna minta aku menemani segala aktivitasnya. Makan, mandi, main, tidur, membaca dongeng.. semuanya. Pokoknya dia nempel aku terus, sama sekali nggak mau kutinggal bahkan untuk mandi sekalipun. Dan, tahu nggak dia bilang apa waktu sembuh dari sakitnya ?”, cerita Rika dengan menggebu-gebu.

”Apa ?”, Aku mulai penasaran.
Tiba-tiba, saat aku sedang menyuapinya, dia bilang : ”Mama, aku ingin sakit aja”.
”Lho, kok bisa ?”. Terkejut juga aku dengan ceritanya.
”Waktu itu aku juga kaget luar biasa dengan ucapannya. Setelah aku tanya pelan-pelan kenapa ingin sakit, ternyata dia bilang bahwa kalau dia sakit, dia malah senang. Soalnya aku ada di sampingnya terus”, jawab Rika. Air matanya mulai menggenang. Sambil menyodorkan tissue, aku menyimak ceritanya dengan seksama.

Luna bilang, ”Asyik kalau aku sakit. Bisa maem sama mama, bobo sama mama, mandi sama mama, main sama mama. Pokoknya enak!”. Setelah menyelesaikan kalimatnya inilah air mata Rika menetes, lalu mengalir deras.

”Sepertinya selama ini aku salah besar. Aku sudah melupakan Luna. Kupikir, dengan diasuh suster berpengalaman sehari-harinya, mengajaknya ke mall dan membeli mainan di akhir minggu, itu sudah cukup untuk menebus waktuku yang terpakai untuk bekerja. Ternyata tidak!! Bagaimana lagi, sepulang bekerja tenagaku sudah habis. Sedikit sekali waktu berkualitas yang bisa kusediakan untuknya”. Rika menggigit bibir bawahnya, lalu melanjutkan ucapannya. “Kejadian Luna demam tinggi kemarin seperti teguran keras dari Tuhan. Di saat yang bersamaan, aku memang sedang mempertimbangkan tawaran beasiswa S3 ke Inggris. Bahkan sudah terbayang rencana, Luna akan kutitipkan pada eyangnya saja di Yogya”.

Saya melongo. Ya ampun… Jujur saja, saat itu aku tak tahu harus berkata dan berbuat apa, kecuali mengusap punggung Rika dengan harapan bisa membuatnya sedikit lebih tenang.

“Suamimu, bilang apa dengan rencanamu itu?”, tanyaku.
“Sebenarnya kurang setuju juga. Tapi, yah.. dia tahu watakku sejak dulu”, jawabnya sambil menarik nafas.
”Bagaimana dengan pendapatmu ?”

Aku terkejut lagi dengan pertanyaannya yang tiba-tiba. Selama ini, Rika menjadi salah seorang wanita yang menjadi “idola”ku. Bahkan, tak jarang aku begitu iri dengan prestasinya. Apa sih yang tidak dimiliki Rika ??? Keluarga, materi, karir, semuanya tercukupi. Di mataku, ia juga seorang wanita karir yang tidak melupakan keluarga. Aku tahu pasti usaha kerasnya memperhatikan suami dan anaknya, di sela-sela tenaganya yang tersisa. Tapi, ternyata ada hal lain yang belum kuketahui. Tentang kegelisahannya, yang kebetulan, tidak kurasakan sendiri.

Ya, aku jadi lebih bersyukur sekarang. Setidaknya, aku tak perlu ”bersusah-susah” minta ijin atau cuti hanya untuk menemani Vel ke dokter untuk imunisasi. Aku masih bisa memandikan Vel setiap pagi dan sore hari. Aku bisa mengajaknya bermain setiap hari, membacakan dongeng, ataupun sekedar mengajaknya berjalan-jalan di sekitar rumah kami. Aku bisa mengatur waktu kerjaku sendiri. Hal-hal yang mungkin tidak akan bisa kulakukan jika bekerja full time seperti Rika, meski punya penghasilan tetap dan jenjang karir yang bergengsi.

”Rika, kupikir setiap pilihan ada konsekuensinya. Kalaupun kamu berhenti bekerja, permasalahannya tidak semudah membalikkan telapak tangan”, kataku, mencoba memberinya saran.

”Maksudmu ?”
”Untuk wanita yang biasa bekerja, berhenti bekerja lalu sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga bukan hal mudah. Banyak sekali dilema di dalamnya. Karena juga akan banyak hal yang berubah. Masalah finansial, aktualisasi diri, adaptasi, semua harus dipertimbangkan masak-masak. Intinya, kamu harus siap lahir batin”.

Rika memandangku dengan tajam. ”Lalu, aku harus bagaimana ?”

Sulit juga pertanyaan Rika yang satu ini. Karena menjawabnya, membuatku merasa seperti harus menasihati diri sendiri.

”Peristiwa sakitnya Luna, dan juga ungkapannya tentang ”dia ingin sakit saja” memang bisa jadi teguran dari Tuhan, Rika. Tapi kurasa berhenti bekerja bukan satu-satunya jalan keluar. Ada beberapa hal lain yang bisa dipertimbangkan. Misalnya, mempertimbangkan kembali rencanamu menerima tawaran beasiswa ke luar negeri. Bisa juga dengan belajar menerapkan manajemen waktu dan pikiran dengan lebih baik lagi, sehingga kamu punya lebih banyak waktu berkualitas untuk Luna. Kalaupun kamu sudah mantap untuk berhenti bekerja, maka bekerja dari rumah, mengambil pekerjaan freelance atau part time rasanya juga bisa jadi pilihan”, kataku.

Rika menyimak kata-kataku dengan penuh perhatian. Syukurlah, tak berapa lama kemudian senyumnya mulai mengembang. ”Benar juga ya, ucapanmu itu. Latihan meditasi atau relaksasi sebentar sebelum pulang kantor mungkin bisa jadi pilihan supaya tenagaku ”terisi” lagi. Sambil mikir pelan-pelan sebelum akhirnya aku bisa mengambil keputusan”.

”Nah.. ada ilham, kan ??”, aku mencoba mengajaknya bercanda.

”Jadi ngiri sama kamu nih. Dengan banyak menghabiskan waktu bersama anak, pasti kamu nggak pernah merasa seperti aku, kan ? Velma beruntung punya mama seperti kamu”, kata Rika.

Siapa bilang?
Seandainya saja Rika tahu bahwa aku pun pernah begitu iri padanya. Tak apa, yang penting sekarang aku tahu bahwa setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi, keuntungan dan kerugian sendiri.


*****

Dukungan vs Ancaman


“..sebuah dukungan ternyata membuat kita merasa dipercaya
dan justru melakukan yang lebih baik…”

Oleh: Dyah Pratitasari
(Dipublikasikan dalam Majalah Parenting Indonesia, Mei 2007)

Suatu hari, aku mendapati Vel sedang asyik membuka-buka lembar halaman buku koleksiku. Melihat itu, aku berkata “Vel, awas ya kalau sampai robek !!..”

Dan apa yang terjadi?

Krueeeekkkkkkk….!!!!, sedetik kemudian Vel merobek buku tersebut lalu melemparnya. Wajah Vel menampakkan kekesalan. Ternyata, kalimatku yang tanpa kusadari telah bernada “ancaman”, telah membuatnya merasa tak dipercaya dan justru membuatnya “berontak”.

Sekarang, aku berusaha untuk mengucapkan kalimat “Mama senang sekali kalau ade menggambar di whiteboard”, daripada “Awas kalau kamu coret-coret dinding ruang tamu”. Tak lupa, aku berikan reward berupa ucapan terima kasih disertai pelukan atau pujian jika ia mau melakukannya.

Hasilnya ?? Jauh lebih efektif. Vel tak lagi “memberontak”. Ia juga tampak lebih bersungguh-sungguh dengan usahanya untuk tidak menumpahkan makanan, membuka lembaran buku, atau “membereskan” mainan.

Hikmah dari kejadian itu juga pernah kudapatkan dari pengalamanku sendiri, yang diawali oleh keinginanku untuk kembali bekerja. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi keinginanku tersebut. Pertama, Vel telah menyelesaikan semua imunisasi wajibnya. Kedua, Vel telah mendapatkan ASI ekslusif selama enam bulan pertama hingga kini, saat aku ingin mulai menyapihnya karena ia hampir berusia dua tahun. Alhamdulillah, aku juga menjadi orang pertama yang menyaksikannya pertama kali melangkah, bicara, dan pengalaman pertama lainnya.

Setelah menikah dan Vel lahir, aktivitas utamaku adalah sebagai ibu rumah tangga. Dengan bantuan si Mbak menangani urusan rumah tangga, waktu luangku semakin banyak. Saat suamiku belum pulang dari kantor dan Vel telah lelap, saat itulah kerinduanku untuk kembali bekerja semakin meluap-luap. Aku merindukan sesuatu yang dulu pernah kudapatkan : sarana untuk mengaktualisasikan diri dan bersosialisasi. Sebagai penulis lepas alhamdulillah tulisanku sering dimuat di media, dan bahkan beberapa kali menjuarai lomba penulisan. Aku sangat bersyukur. Tetapi mungkin karena terbiasa aktif, aku tetap merasa ada yang kurang dalam kehidupanku saat ini.

Sebelum menikah, aku dan Irwan telah berkomitmen bahwa setelah menikah, aku akan kembali bekerja. Tetapi, ternyata pelaksanaannya tak semudah yang kami bayangkan. Aku pun setuju saat Irwan mengajukan beberapa syarat ketika aku mulai mencari pekerjaan baru. Jarak kantor dan jam kerja menjadi pertimbangan utama. Irwan tak mau aku berangkat kerja lebih awal dan pulang lebih telat darinya. Intinya, secara kuantitas ataupun kualitas, aku harus tetap memprioritaskan keluarga.

Maka mulailah aku mengirimkan beberapa lamaran untuk beberapa lowongan yang kurasa sesuai dengan kualifikasiku, juga kriteria yang Irwan tetapkan. Dalam waktu relatif singkat, lamaranku mendapat tanggapan. Saat itulah hubunganku dan Irwan mulai “bermasalah”. Irwan akan berubah menjadi “pendiam” saat aku mulai membicarakan masalah pekerjaan. Kalaupun tidak, kalimat yang terlontar dari bibirnya selalu bernada ancaman.

Awas, jangan lupa komitmen kita”
“Terserah, kita lihat saja nanti”

Anehnya, mendengar kata-kata itu aku justru ingin “berontak”. Mungkin, karena kalimat-kalimat itu justru membuatku merasa tak dipercaya padahal tanpa “nada peringatan” tersebut, aku telah berusaha sekuat tenaga.

Pada suatu hari, aku mendapatkan panggilan wawancara final dari sebuah perusahaan yang lama kumimpikan. Aku bertekad, kalaupun Irwan menentang, aku akan tetap pada pendirian. Apapun resikonya, pekerjaan itu harus aku dapatkan.

Di luar dugaan, saat aku sedang menyuapi Vel sebelum berangkat, tiba-tiba Irwan menawarkan diri untuk memanaskan mesin mobil yang sedianya akan kupakai. Kebetulan, hari itu Irwan tak masuk kerja karena kurang enak badan. Saat aku berpamitan padanya, Irwan berkata “ Do the best, honey. Aku percaya sama kamu. Good luck ya !!”.

Seketika, mataku berkaca-kaca. Perubahan sikapnya, benar-benar berefek luar biasa. Perasaan “berontak”, kemarahan, dan ambisi yang awalnya justru menjadi-jadi karena merasa tak dipercaya, luruh seketika. Dalam perjalanan, aku kembali bertekad akan menegosiasikan kondisi yang kumiliki pada pihak perusahaan. Diterima atau tidak, aku ikhlas. Tuhan pasti akan memberikan pilihan yang terbaik bagiku dan keluargaku.

Diluar dugaan, pihak perusahaan berkenan memberikan kebijaksanaan atas beberapa hal yang kuajukan. Aku diterima bekerja di sana. Berita gembira ini segera kusampaikan pada Irwan. Sambil menangis bahagia, aku mengucapkan terima kasih atas dukungannya. Saat itu juga, kami mengakui kesalahan masing-masing. Ternyata, ego yang sempat dominan di antara kami berdua membuat kami “lupa”. Seperti Irwan yang berjanji akan mendukung keputusanku dengan “membantuku” semampunya, aku pun semakin bertekad untuk dapat menjaga kepercayaan yang telah Irwan berikan.

Sama sepertiku, ternyata bagi seorang anak pun, sebuah dukungan akan membuatnya merasa dipercaya dan melakukan yang lebih baik.**



Lomba Foto


Ketika mengikutsertakan anak pada sebuah lomba, benarkah kita melatih rasa percaya dirinya... atau justru sebaliknya?


Oleh : Dyah Pratitasari
Dipublikasikan dalam Majalah Parenting Indonesia, Oktober 2006

Pagi itu, saya sangat kesal karena gagal mengarahkan Vel beraksi di depan kamera. Saya ingin ia memainkan kulintang, drum, atau merangkak, mengejar bola, ... pokoknya apa saja yang menunjukkan kepintarannya – sesuai tema lomba foto yang akan kami ikuti saat itu. 

Sayang, Vel malah asik sendiri. Ekspresinya datar, dan beberapa kali menguap karena mengantuk. Ketika saya sodori mainannya, eeh... dia malah menangis!

“Vel masih ngantuk tuh. Kasihan... besok lagi deh kalo Vel memang sedang pengen main“, kata suami saya. 

Saya langsung menyambut ucapannya, "Kapan lagi kalo ngga sekarang, besok kan fotonya harus sudah kirim. Mumpung sinar mataharinya lagi bagus banget, nih!“.

Menurut beberapa artikel dan buku tentang fotografi yang saya baca, foto outdoor terbaik akan dapat dihasilkan jika foto dilakukan saat berada pada kondisi cahaya minimal. Misalnya saat matahari akan terbit atau sore hari saat matahari akan tenggelam. Karena itulah, saya bersemangat mengajak Vel dan suami untuk "pemotretan“ pagi hari di taman dekat rumah. Demi mengikuti lomba foto bayi, yang diselenggarakan oleh salah satu mall di kawasan Jakarta Selatan.

Alhasil, sesi pemotretan tetap berjalan dan saat melihat hasil foto di komputer, saya ngomel tak karuan, "Papa nih ngambil angle-nya kurang pas, ngga fokus!“. Bahkan Vel pun kena semprotan saya juga, "Velma gimana sih, kok ngga mau senyum, ngga mau kejar bolanya, kalo gini terus adek ngga bisa menang lomba foto lho!“

Hari itu, perasaan saya campur aduk. Sia-sia rasanya saya mendandani Vel sekian rupa agar tampak menarik dan eye catching di depan lensa. Seharian, energi yang saya keluarkan adalah energi negatif. Semua terasa tidak nyaman. Bahkan weekend yang seharusnya saya nikmati bersama suami dan anak berlalu begitu saja karena saya bete, gara-gara foto Vel urung saya kirim karena saya anggap “Percuma juga dikirim. Ngga bakalan menang”.

***

Lamunan saya terbuyarkan oleh tepukan tangan suami. Ia mengajak saya beranjak dari tempat saya menonton lomba lukis anak-anak di sebuah mall. 

Menyaksikan kejadian di tempat lomba itu rasanya seperti menyaksikan diri saya sendiri. Dalam lomba lukis itu, tampak beberapa orang ibu yang sibuk mendampingi anaknya berlomba. Sama sibuknya dengan saya pagi itu. Bedanya, ibu-ibu ini sibuk mengomentari putra-putrinya yang sedang melukis.. “Yaaah, warnanya jangan pake yang itu dong, Nak. Pakai yang ini saja,” kata seorang ibu sambil menyodorkan sebuah cray├│n dengan warna setingkat lebih tua. 

Ibu yang lain seperti tak mau kalah, beliau malah ikut mewarnai lukisan anaknya, “biar warnanya ngga keluar garis”, begitu komentarnya. Ibu yang satunya lagi sibuk “mendikte”, pohonnya diwarnai anu, mobilnya pakai warna anu, gambarnya ditambah anu, dst. Teguran panitia tak dihiraukan lagi. Sambil sembunyi-sembunyi, mereka tetap berusaha mengarahkan putra-putrinya yang sedang berlomba. Agar hasil karya bocah-bocah lugu itu sesuai dengan keinginan orangtuanya.

Saya jadi malu. Rasanya seperti melihat diri saya sendiri pada sosok ibu-ibu itu. Dalam sebuah lomba, yang pesertanya bukan saya, lha kok malah saya yang senewen. Sedemikian bersemangatnyakah saya saat itu demi mengharap Vel bisa memenangkan lomba? 

Saya tertuntun untuk berpikir lebih dalam:
Apa sih, yang menjadi niat saya mengikutsertakan Vel dalam lomba?
Saya ingin melatih rasa percaya dirinya sejak dini.
Saya  juga ingin mengeksplorasi kemampuannya, semaksimal mungkin.

Namun, apakah yang saya lakukan ini akan melatih rasa percaya dirinya? Dengan mendikte keputusan-keputusannya, mematahkan ide-idenya dan kemudian menggantinya dengan ide-ide saya? 

Bagaimana mungkin Vel bisa mengeksplorasi kemampuannya jika dalam lomba bukan ia yang berperan aktif, tapi saya? 

Bagaimana mungkin Vel menjadi percaya diri dengan kemampuannya, jika saya selalu mengomentari langkahnya dan menilai "bagus" atau "tidak" karyanya melalui kacamata saya?

Rasanya saya mulai menyadari bahwa keinginan menjadikannya lebih percaya diri dan mengeksplorasi semua kemampuannya hanyalah kedok semata. Senjata untuk memenangkan  ambisi terpendam saya sendiri. 

Apa yang saya lakukan pada Vel adalah bukti keegoisan saya. Bahkan tanpa saya sadari, saya tak peduli pada perasaan Vel dan akibat perbuatan saya itu pada perkembangan jiwanya :(

Ya Tuhan, maafkan saya
Maafkan Mama ya, Vel…

Sejak saat itu, saya sadar:
Kompetisi hanyalah motivasi untuk menggali potensi. 
Bukan ajang menyalurkan ego pribadi.

Sejak saat itu pula, Vel resmi bebas menentukan sendiri gaya yang disukainya. 
Gaya yang sesuai dengan spontanitasnya, mengalir dari dirinya sendiri.
Gaya yang sesuai dengan kepribadiannya, senang berpikir dan mengamati.











Tugas saya dari balik lensa hanyalah memfasilitasi, dan merekam ekspresi murninya. 
Itu saja :)

"Kita sering terperangkap oleh pikiran dan ego. Itulah yang membuat kita sulit menemukan kelebihan orang lain" ~ anonim

Kolaborasi

Kolaborasi

“…Seperti halnya 1 + 1 = 2, itulah suamiku…”



Oleh : Dyah Pratitasari

Saat masih duduk di bangku sekolah, (dan tampaknya berlaku sampai saat ini) aku bukan orang yang menyukai bidang eksakta. Matematika, fisika, kimia, biologi adalah pelajaran sekolah yang tidak terlalu membuatku bersemangat. Kalaupun ada yang membuatku suka, itu karena teman-teman sering memintaku untuk menggambar bakteri, virus, bagan rantai makanan, tanaman dan aneka ilustrasi yang ditugaskan oleh guru kami. Seringkali, saat pelajaran fisika atau kimia sedang berlangsung aku malah asyik menulis esay atau menggambar wajah guruku yang sedang mengajar di depan kelas. Bukan karena tak menghormati mereka, tapi aku memang tak mau memaksakan minatku dalam menghadapi pelajaran-pelajaran itu. Lain halnya dengan pelajaran bahasa, ekonomi, sosiologi, dan teman-temannya, aku antusias sekali. Ya, rasanya aku memang lebih tertarik pada bidang sosial dan humaniora daripada eksakta. Saat penjurusan SMA, di saat teman-teman lain berjuang supaya bisa masuk IPA, aku justru merayu papaku untuk menghadap Kepala Sekolah. Tujuannya, biar bisa dipindah ke IPS.

Melihat keadaanku saat itu, almarhum mamaku pernah bercanda, “Kalau begitu besok-besok kamu harus cari suami yang tipe eksakta, agar anakmu ada yang mengajari PR matematika-nya”. Tentu saja saat itu ucapan beliau hanya kusambut dengan tawa. Tapi semenjak aku duduk di bangku kuliah, ucapan almarhum mama tiba-tiba saja jadi sering terngiang-ngiang di telinga. Kalau kupikir-pikir… benar juga ya! Aku belajar di fakultas sastra. Kalau suamiku juga orang sastra yang sama sepertiku-membenci matematika, dengan siapa anakku kelak akan mengerjakan PR fisikanya ??? Ketika kelak menjadi orangtua, aku ingin seperti orangtuaku yang biasa menemani anak-anaknya dalam belajar. Alasan itulah yang akhirnya membuatku menyusun kriteria dalam mencari pacar. “Pintar eksakta” menduduki peringkat pertama (tentu saja seiman dan taat beragama menjadi peringkat segala-galanya).

Syukurlah, Tuhan mengabulkan doaku. Irwan, suamiku bisa dibilang ahli dalam kelompok bidang yang satu itu. Bahkan, mungkin karena sayangnya padaku, Tuhan tak hanya memberi suami yang pintar eksakta. Tapi juga “eksakta” karakter dan tingkah lakunya! Hahahaha…

Seperti halnya 1 + 1 = 2, itulah suamiku. Apa yang dikatakannya benar-benar sama dengan apa yang ada dalam isi hatinya. Kalau tidak suka, ya bilang tidak suka. Ia tidak akan bilang “kurang suka” hanya demi kepentingan memperhalus bahasa. Sebaliknya, ia tak akan bilang jelek kalau memang yang dilihatnya dianggap bagus. Sangat jujur, memang. Tapi ada kalanya “kejujurannya” ini membuatku kesal. Bagaimana tidak, gara-gara sikap eksaknya itu kami jadi sering bertengkar hanya gara-gara hal sepele. Kalau aku bilang sesuatu, katakanlah itu A, maka ia menelan bulat-bulat ucapanku itu. Padahal maksudku, yang namanya A bisa saja berubah menjadi A+ atau A-, tergantung situasi dan kondisi yang berlaku.

Sebaliknya, ia juga menganggapku aneh, nyeleneh, bahkan sok “seniman”. Sempat pula menjulukiku “Si - Tergantung”. Maksudnya, kalau ditanya jam berapa aku akan pergi, aku biasanya menjawab: “tergantung” bagaimana situasi nanti. Kalau ia tanya nanti malam aku masak apa, aku akan jawab: “tergantung” nanti tukang sayur yang lewat depan rumah bawa apa saja. Kalau ia tanya apakah aku jadi membelikan mainan baru untuk Vel, maka kujawab: “tergantung” nanti ada keperluan lain yang lebih urgent atau tidak. Menurutku sih, sifatku itu tidak aneh. Aku mengistilahkannya dengan “fleksibel”. Nyaman saja rasanya, jika mengerjakan sesuatu tanpa harus dibatasi atau terburu-buru. Lagipula, seketat apapun rencana yang kita buat, toh kita tetap harus siap dengan resiko yang terburuk. Yah, apapun namanya, kami memang tetap dua insan yang berbeda minat dan kepribadian.

Pertengkaran-pertengkaran kecil yang disebabkan karena perbedaan mewarnai pernikahan kami, sampai suatu hari suamiku membeli kamera DSLR.

“Wow… sejak kapan Mas suka memotret?”, tanyaku sambil mengagumi lensa barunya, yang sekilas mirip sebuah bazooka. Selain suka sekali difoto, sebenarnya sejak dulu aku ingin sekali belajar tentang fotografi, tapi sarana dan kesempatannya belum memungkinkan.

Suamiku tersenyum. “Ini hobi baru, aku belajar dari Chris, temanku”. Wow… ternyata diam-diam ia belajar fotografi. Pantas saja aku pernah menemukan file-file petunjuk praktis fotografi dan foto-foto dengan aneka tema di komputer kami. Hobi barunya itu kusambut dengan suka cita. Apalagi, ia bersedia membantuku belajar. Hari Sabtu dan Minggu menjadi hari istimewa bagi kami. Pagi-pagi, kami bangun dan hunting objek foto bersama. Matahari terbit, tetes air, mobil lewat, penjual bakso, dan tentu saja aktivitas Vel, menjadi santapan kami. 

Sayangnya, masalah belum berakhir sampai di sini. Lagi-lagi, masalahku di bangku sekolah seolah terulang kembali. Exposure, komposisi, ISO, shutter speed, aneka istilah dan hitungan teknis dalam dunia fotografi membuatku gerah. Kok aku nggak paham-paham juga sih… kalaupun paham, butuh ekstra niat dan usaha. hehehe.. Padahal, aku paling jago mengambil foto jika ditinjau dari penilaian angle dan tema. Banyak orang bilang, foto-fotoku sangat berkarakter dan bisa bercerita. Sayang, exposure dan ISO-nya kurang tepat sehingga gambarnya tampak terlalu terang, atau terlalu gelap. Untuk yang satu itu, terkadang suamiku harus menyempurnakannya lagi dengan sedikit bantuan teknik fotografi, sebelum foto-fotoku ku-upload dalam blog. Sebaliknya, suamiku jago mengukur ketepatan pemakaian lensa, exposure, ISO, dan tetek bengek berbau hitungan teknis lainnya. Namun, objek fotonya terlalu kaku dan kurang bernyawa.

Suatu hari usai hunting foto, kami sama-sama melihat hasil foto di komputer. Kami saling mencela hasil foto satu sama lain.

“Cela-celaan terus, kenapa kita nggak kerja sama saja sih?”, celetukku.

“Gimana kalau Mas jadi fotografernya, dan aku pengarah gaya?”, ucapku jahil. 

Matanya langsung berbinar. Tak kusangka, ia merespon dengan luar biasa.

“Wah, ide bagus, tuh! Kita kolaborasikan saja kemampuan kita berdua. Tugasmu : merancang konsep dan membuat objek foto jadi menarik. Masalah teknisnya, serahkan saja padaku!”, ujarnya sambil menepuk dada. 

Benar juga, kenapa aku tak pernah terpikir untuk mengolaborasikan kemampuan kami berdua, ya? Selama ini kami malah terlalu sibuk menyoroti kekurangan masing-masing yang tak ada habisnya.

Tekad kami saat itu langsung kami coba keesokan harinya. 

Hasilnya, foto-foto yang kami hasilkan sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya. Meskipun mungkin belum sebaik karya fotografer profesional lainnya, namun aku berani menjamin bahwa foto kami "istimewa". 

Ya, istimewa karena dikerjakan oleh dua orang “ahli” yang berkolaborasi menyatukan kekuatannya masing-masing.



Lebih dari itu, perpaduan unsur teknik dan seni dalam fotografi seperti mengajarkan sebuah filosofi pada kami berdua. Tak ada satupun manusia yang sempurna. Tuhan menciptakan manusia dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Ketika menikah, perbedaan yang ada dalam setiap pasangan ternyata menjadi jauh lebih indah jika dijembatani dengan saling mengisi. Bukankah sebuah taman bunga pun akan tampak lebih indah jika ditanami dengan bunga yang berwarna-warni?

(dimuat di majalah PARENTING Indonesia, Februari 2007)
foto, dokumentasi pribadi

Ibu (Mertua)-ku Sayang!


“…Untuk beberapa saat kami sama-sama merasa kikuk dan serba salah. Tapi ternyata itulah saat pertama kali gunung es di antara kami mulai mencair…”




Mama dipanggil Tuhan saat saya masih duduk di bangku SMA. Selama dua tahun, mama berjuang melawan kanker payudara. Semangat hidupnya begitu hebat. Beliau ingin sekali menyaksikan kedua putrinya –saya dan Nisa, adik saya- menikah. Dulu, kami bertiga sering berandai-andai bahwa kelak saat kami telah menikah, mama akan memasak spesial setiap kali kami datang berkunjung bersama pasangan dan anak-anak kami – cucu mama. 

Mama dan kedua putrinya memang bagaikan sahabat, tanpa mengurangi rasa hormat kami pada beliau sebagai orangtua. Mama adalah orang pertama yang saya cari ketika saya ingin curhat, tentang apa saja. Tapi apalah daya, sebagai manusia yang hanya bisa berencana, Tuhan telah memutuskan. Mama pergi meninggalkan kami yang saat itu masih membutuhkan bimbingannya, untuk tumbuh dan menjadi wanita dewasa.

Saya menikah lima tahun setelah mama pergi. Menghadapi hidup baru sebagai seorang istri dan anggota baru bagi keluarga suami bukanlah hal mudah. Cerita dari kakak ipar tentang karakter ibu mertua yang cenderung dominan dan terkadang membawa kegelisahan tersendiri bagi menantu-menantunya membuat saya sempat stress. 

Apalagi, banyak artikel yang juga memuat cerita tentang konflik antara menantu perempuan dan ibu mertua. Oh, alangkah enggannya saya mengalami itu semua. Artikel-artikel dan informasi lain berupa tips yang saya dapat belum mampu menenangkan kekhawatiran. Saya merasa semua hanya teori belaka. Ditambah lagi, dua bulan setelah menikah saya hamil dan mengikuti suami bekerja di kota lain yang tak ada satupun famili berdomisili di sana.

Saya benar-benar merasa sendiri dan bingung. Tahu apa sih saya tentang kehamilan? Tentang mengasuh bayi yang baru lahir dan menangis hampir setiap jam? Saya mencoba menenangkan diri dengan mencari informasi sebanyak mungkin dari majalah. Pengetahuan saya memang bertambah. Saya merasa lebih percaya diri menyambut kehadiran si kecil. 

Meskipun demikian, rasa gelisah itu tetap mengganggu pikiran....

Sampai suatu ketika, di usia kehamilan yang ketujuh ibu mertua menelepon dan mengatakan akan tinggal beberapa waktu di Jakarta untuk menemani saya. Ingat berbagai permasalahan antara mertua-menantu yang pernah saya baca dan omongan kakak ipar yang bernada “harap maklum”, kegelisahan saya justru menjadi-jadi. Saya takut ibu mertua akan memprotes cara saya merawat si kecil kelak saat ia lahir. Saya khawatir ibu mertua akan mencampuri urusan saya dan suami. Saya khawatir apa yang saya lakukan akan salah di mata beliau. Intinya, kedatangan beliau justru membuat saya bagai seorang paranoid.

Beberapa hari sebelum beliau datang, saya sibuk mengganti tirai dan membersihkan rumah. Saya sibuk dengan kegelisahan saya hingga akhirnya saat beliau datang saya jatuh sakit, kelelahan.

Dalam kondisi seperti itu, saya “terpaksa” pasrah menerima keadaan. Apa saja yang terjadi?

Pertama, ibu memasak banyak makanan. Saya sempat protes dalam hati, “masak kok begini banyak sih?? Kayak ada sepuluh anggota keluarga saja!!”. 

Kedua, ibu membeli dua lusin gelas dan piring yang coraknya (menurut saya) sangat out of date. Ketiga, keempat dan seterusnya adalah hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan saya. Tapi, rasanya ibu mertua cuek saja. Beliau melakukan apa saja seolah rumah saya adalah “rumahnya”. 

Pada suatu malam, ibu tampak tak sesemangat biasanya. Beliau duduk, kedua tangannya memijat-mijat tengkuk. Ketika saya tanya keadaannya, ternyata beliau kurang enak badan. Mungkin kelelahan karena terlalu bersemangat membereskan rumah dan berbelanja untuk menyambut kehadiran calon cucunya. 

Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu tangan saya sudah terulur ke pundak ibu mertua. Memijit pundaknya. 

Untuk beberapa saat, kami sama-sama kikuk dan serba salah. Tapi ternyata, itulah saat pertama kali gunung es di antara kami mulai mencair.

“Mmmm… Ibu bilang saja sama saya kalau memang butuh dipijit. Biarpun ngga seenak tukang pijat langganan ibu di Yogya, tapi pijatan saya lumayan juga kok”, kata saya membuka pembicaraan sambil memijat pundaknya.

Tanpa diduga, ibu meraih tangan saya dan tersenyum. 
Lalu katanya, “Kamu memang menantu yang baik!”



..........


Syukurlah, kini masa-masa “mengerikan” sebagai menantu baru itu telah berlalu. 

Saat saya melahirkan, ibu menjadi orang yang siap membantu kapanpun saya butuhkan. Di hari-hari pertama kelahiran Velma (putri saya yang sekarang telah berusia 13 bulan) ibu rela mengambil cuti dan menetap sementara di Jakarta, demi Si Menantu.. 

Dengan telaten, beliau membuat daun sirih yang dipanggang dan diolesi minyak kelapa untuk mengobati luka pada puting payudara saya. Awalnya, saya sempat “under estimate” dengan resepnya itu. Buat saya, cukup dioles ASI saja (dan memperbaiki perlekatan, tentunya) nanti luka saya akan sembuh dengan sendirinya. 

Ternyata, olesan ASI ditambah daun sirih buatan ibu itu luka saya mengering jauh lebih cepat. 

Berdasarkan kejadian itu, saya merenung. Rupanya sekedar teori saja belum cukup. Hasilnya kok lebih baik jika digabungkan dengan pengalaman #catet..

Tak hanya itu lho. Setiap hari, beliau memasak sayur daun katuk dan kacang hijau agar ASI saya "mengalir deras". Beliau mengambil alih semua urusan rumah tangga, dan membimbing Si Mbak ART dalam melakukan beberapa pekerjaan, saat saya masih lemah sisa persalinan. Lucunya, kali ini saya tak lagi uring-uringan :p 

Ada juga saat-saat saya melarang ibu mengerjakan sesuatu di rumah. Contohnya, saat beliau berniat memasak sendiri saja hidangan untuk para tamu di acara syukuran akikah Velma. Pikir saya, yang benar saja! Bisa-bisa nanti saya dikira “mempekerjakan” ibu mertua. Saya tahu banget sih, ibu paling senang memasak. Memasak bagi beliau bukan sekedar menyalurkan hobi. Melainkan juga eksistensi sebagai nenek yang ingin memberikan sesuatu untuk cucu satu-satunya, yang berdomisili di luar kota. Tapi karena Ibu juga ngotot kepingin tetap memasak, akhirnya kami bermusyawarah. Demi menjaga stamina dan menyalurkan keinginannya, ibu hanya memasak sebagian hidangan saja. Sisanya, kami serahkan pada catering. Tentu saja, hidangan yang dimasak ibu adalah hidangan khas yang lezatnya tak akan kami temui tandingannya di manapun!

Kali ini, apa yang diperbuat ibu mertua tak lagi selalu salah. Saya sudah merevisi semua konsep dan pikiran tentang kami berdua. Saya tak mau lagi terlalu percaya pada teori atau cerita seram tentang ibu mertua dan menantu perempuannya. Disadari atau tidak, cerita-cerita itu memberikan efek yang negatif untuk saya. Saya jadi terpengaruh, jadi mudah apriori dan ya.. paranoid itu tadi. Efeknya, justru dapat memperburuk hubungan kami sendiri.

Alih-alih percaya pada artikel media, akhirnya saya memilih untuk mengandalkan intuisi. Nah, ada beberapa hal yang saya garis bawahi dalam rangka menjalin hubungan romantis bersama Ibu Mertua:

Pertama, niat. Ketika saya mulai menancapkan niat untuk menganggap ibu mertua sebagai ibu saya sendiri, semua terasa jauh lebih ringan. Saya mendoktrin dan melatih diri untuk tak lagi memanggil beliau “ibu mertua”, melainkan “IBU” saja. Dengan menganggap beliau sebagai ibu saya sendiri saya merasa lebih mudah memaklumi kekurangannya, lebih mudah menyampaikan isi hati saya (meski tetap dengan cara “istimewa”), dan lebih mudah berempati kepadanya. Siapa tahu saya akan melakukan hal yang sama seperti beliau, dua puluh lima tahun mendatang??? Apapun yang beliau lakukan, pasti diawali dengan keinginan untuk memberi yang “terbaik” bagi kehidupan keluarga anaknya, bukan? J

Kedua, saya mengistilahkannya dengan “kompromi”. Saya sadar bahwa konflik bisa terjadi pada siapapun, kapanpun dan di manapun. Termasuk dalam hubungan saya dengan ibu mertua. Yang saya lakukan adalah mencoba lebih santai dan toleran dalam menghadapi permasalahan yang ada. Ketika ibu “protes” karena Velma tak memakai gurita di 40 hari pertama hidupnya, saya jelaskan pelan-pelan bahwa sekarang ini pemakaian gurita dengan kencang pada bayi sudah tak dianjurkan lagi oleh dunia kedokteran karena dapat mengganggu pernafasan. Saya juga tunjukkan pada beliau artikel-artikel dari beberapa media tentang itu. Ketika ibu bersikeras gurita tetap harus dipakai (dengan alasan hal itu sudah jadi tradisi, saya pun mengambil jalan tengah: Velma memakai gurita, tapi dengan dengan ikatan yang longgar. Ketika Ibu sudah kembali ke Jogja, gurita Velma pun kembali tersimpan rapi di lemari. Hehehe…

Ketiga, lakukan apapun dengan tulus. Meskipun hanya membelikan obat penyubur bunga anggrek atau buku resep masakan untuk beliau. Hal-hal “kecil” itu ternyata efeknya luar biasa. Saya pikir, pasti bukan dari jenis atau nilainya. Melainkan dari “besar”nya ketulusan dan cinta saya untuk beliau. Ya, saya merasa belum sanggup melakukan hal-hal besar. Saya hanya berusaha melakukan hal-hal “kecil” dengan cinta yang “besar” dengan segenap kemampuan.

Sampai sekarang, kerikil-kerikil dalam hubungan kami pasti tetap ada. Namun syukurlah, kerikil-kerikil kecil dalam hubungan kami tak menjadi penghalang. Justru kerikil-kerikil itu sedang kami susun bersama agar menjadi pemanis dalam hubungan kami berdua. 

Sekarang, ibu tak pernah ragu meminta saya untuk memijit tubuhnya. Kami juga jadi pasangan kompak dalam hal memasak dan jalan-jalan. Kata beliau sih, enakan jalan-jalan sama saya daripada sama suami, karena ngga ada yang mengajak buru-buru pulang. Kami bahkan pernah jalan-jalan seharian, menyambangi empat buah mall di kawasan Jakarta Selatan sekaligus! Yah… meski pulangnya harus berpegal-pegal ria, dan kami pun saling bergantian memijat di rumah. Hihihi….


(dimuat di majalah PARENTING Indonesia, edisi Desember 2006)