Foto saya
Mama dua anak, istri dari satu suami. Kini menjalani aktivitas sebagai konselor menyusui, doula persalinan, tukang motret, dan supir pribadinya anak-anak. Rumah ini berisi catatan randomnya, dalam belajar hidup sebagai manusia.

Jumat, 14 November 2014

Mall tanpa Dinding


Tempat saya belajar kembali, 
bahwa untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, kita hanya perlu belajar 
pada kearifan alam


foto: M Irwan Zam Zam

Akhir pekan kami tidak pernah mewah. Namun, selalu menyenangkan. Salah satu yang biasa kami lakukan adalah bermain di kawasan alam dekat rumah. Di sana kami bisa bercengkerama dengan sinar matahari, hembusan angin, gumpalan awan, menyapa daun dan pepohonan.

Beberapa referensi menyatakan, interaksi dengan alam membuat anak-anak lebih peka terhadap ciptaan Tuhan. Mereka berkesempatan menyadari indahnya warna-warni bunga, aneka hewan yang tak pernah bisa ditemui di rumah, leganya bernapas di udara bebas polusi, dan pentingnya melestarikan alam.


Di saat yang sama, tanpa disadari interaksi kami jadi lebih dekat. Kami lebih sabar untuk mendengarkan, serta menjawab pertanyaan anak-anak yang kerap tak terduga: Sebuah momen "sepele bernilai investasi besar, yang lebih berharga dari logam mulia.


...


Hari Minggu lalu, Velma ditugaskan mengikuti lomba pramuka. Ia berangkat bersama teman-teman sekolahnya, dan orangtua dipersilakan menjemput mereka di sekolah.

Sambil menunggu Velma pulang, kami sekeluarga sepakat untuk jalan-jalan. “Ada ide nggak, tempat baru yang asyik buat kongkow seharian? Jadi, dari sana kita bisa langsung jemput Si Kakak sekalian”, tanya saya pada papanya anak-anak.

“The Breeze aja, yuk? Mall baru di BSD City”, jawabnya singkat.

Kening saya berkerut.

Tumben-tumbenan dia ngajak nge-mall di akhir pekan. Sejak enam tahun yang lalu, keluarga kami berkomitmen menjadikan mall sebagai destinasi terakhir dalam bersenang-senang. Selain cenderung menggoda pengunjungnya untuk berlaku konsumtif, mall membuat kami jadi sibuk sendiri-sendiri; Saya asyik melihat-lihat baju, anak-anak asyik main di play ground. Suami? juga asyik sendiri di counter gadget. 

Menanggapi pertanyaan saya, Suami tidak banyak berkata-kata. Ia hanya menyiapkan dua buah tumbler berisi air putih, lalu memberi komando, “Tiga puluh menit lagi kita berangkat. Ayo Mama sama Jojo siap-siap!”


Bermesraan dengan alam



Kendaraan kami resmi bergerak ke arah selatan Jakarta. Memasuki lokasi The Breeze, saya berkali-kali berdecak kagum sambil mengamati sekeliling:



hai, Koi! Apa kabarmu hari ini? / Dyah Pratitasari


Saya baru menyadari, bahwa mall yang satu ini memiliki konsep berbeda. 

Di saat pengembang lain berlomba-lomba membangun gedung pencakar langit, Sinar Mas Land, pengembangnya, justru terkesan sungkan mengalahkan tinggi pohon kelapa. Di saat developer lain bersaing meraih laba dengan menciptakan hutan (beton) belantara, ia juga "merelakan" lahan tanahnya yang lapang "menganggur" begitu saja, didiami oleh rerumputan dan menjadi kawasan resapan.

Menariknya lagi, mall yang satu ini tidak memiliki pintu masuk. 

Sejauh mata memandang, yang saya temukan hanyalah ruang hijau dengan 5 bangunan terpisah, setinggi 1 hingga 3 lantai. 

Meskipun demikian, fasilitasnya relatif lengkap. Di dalamnya terdapat kolam ikan, danau, akuarium air laut, toko, kafe, restoran, food court, tempat fitness, spa, meeting room, hingga wedding chapel. 

Konon, itu karena The Breeze merupakan salah satu inovasi sekaligus wujud komitmen mereka, dalam mengusung idealisme ramah lingkungan dan hidup keberlanjutan.


Semua berinteraksi, tanpa sekat / Dyah Pratitasari


Foto: Dyah Pratitasari

Foto: Dyah Pratitasari
Foto: Dyah Pratitasari



Foto: Dyah Pratitasari


Foto: Dyah Pratitasari

Pohon, simbol kehidupan


Bebas jalan santai sambil melepas alas kaki


Sebagian bunga yang menemani saya kemarin


Saat asyik berjalan, dua ekor iguana melintas dan bersembunyi di rerumpunan

Hai iguana. kalian sedang apa?



Destinasi yang mampu memfasilitasi ibu dan anak bermain seperti inilah yang kami cari! (Foto: M Irwan Zam Zam)



Let's Inspire The World to SAVE The Planet

Bukan Sekadar Slogan


Mentari beranjak ke ufuk barat. 
Kendaraan yang kami tumpangi bergerak meninggalkan BSD City. 

Sambil menggenggam erat jemari Jojo yang terlelap, saya mencatat pelajaran baru. Ternyata, inovasi bukanlah sekadar berbicara tentang geniusnya menusia dalam menemukan "hal baru". Inovasi, artinya juga berani menjadi bagian dari solusi, dan menciptakan harapan terhadap masa depan yang lebih baik.

Senang, bisa menemukan salah satu wujud nyatanya di sini.








foto: Dyah Pratitasari



"Ketika pohon terakhir telah  ditebang,
 ketika sungai terakhir telah dikosongkan,
 ketika ikan terakhir telah ditangkap,

 barulah kita akan menyadari bahwa uang tidak bisa dimakan”


 Eric WeinerThe Geography of Bliss: One Grump's Search for the Happiest Places in the World

Minggu, 09 November 2014

Terima kasih, Pahlawan

http://www.weirdomatic.com/


Kemarin seorang kawan protes, karena blog saya nggak bisa dikomen. Komentarnya nyelekit, "Pasti gara-gara nggak mau pemikiran lu dikomentarin ya? Iya kan? Ngakuuuu!"


Padahal, saya juga nggak tahu kenapa laman komentar tiba-tiba ngilang. Hikss...


Sempat sebel, pasti. 
Namun efeknya sungguhlah perlu saya syukuri.


Berkat komentarnya yang nggak enak itu, saya jadi ketabok untuk "bangun", termotivasi untuk mencari tahu, hingga akhirnya mengutak-atik blog agar si laman komentar bisa muncul kembali - Yes, mengutak-atik sendiri. Sebuah aktivitas yang selama ini saya hindari, karena merasa diri ini gagap teknologi - atau lebih tepatnya lagi, malas. Toh, ada Pak Suami yang ahli IT.

Padahal setelah dicoba... ternyata BISA! 
Mengerjakannya nggak sampai 10 menit, dan sekarang postingan dalam blog saya sudah bisa dikomentari :p


....


Ternyata memang benar:


Mencoba untuk mengubah kebiasaan perlu mengerahkan daya dan upaya.


MELEPASKAN DIRI DARI KEMELEKATAN terhadap keyakinan "saya nggak bisa", alias sadar atau tidak sadar memilih memposisikan diri sebagai pihak yang tidak berdaya, juga memerlukan kesadaran dan usaha keras luar biasa.


Kenapa? 
Karena tanpa disadari, kondisi "tidak berdaya" membuat kita lebih mudah memperoleh alasan agar pihak lain mau memberi "pertolongan". Dengan kata lain, itulah alasan kita untuk minta diperhatikan. Dimanjakan. 


Dalam kemasan lain, mungkin itu pula sebabnya, ada sebagian orang yang memilih selalu menempatkan dirinya sebagai "korban". Contohnya, antara lain berupa:


Enggan bangkit dari sakit (meski sudah banyak jalan untuk menuju kesembuhan), dan lebih suka terus berkubang dalam penyakit. 


Memilih untuk memposisikan dirinya sendiri sebagai pihak yang tidak mampu berbuat apa-apa. Sementara di saat yang sama, ia mampu berdiri tegak dan membuat perubahan terhadap dirinya -- iiih, persis kayak saya barusan ya >_<


Juga mental bikin masalah, dia yang mulai, tapi teriaknya, "Tolooong, saya dibully!" #eh 



Alhamdulillah, bahagianya hari ini ketika menemukan bahwa diri ini nggak bego-bego amat. Saya lebih kuat, lebih berdaya, dan memiliki harapan untuk menjalani hidup dengan lebih bermakna. 

Yang saya perlukan hanyalah mengijinkan diri ini untuk terlepas dari kemelekatan itu, lebih bebas, melangkah lebih ringan, mencoba, dan berusaha.

Melalui catatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih pada siapapun yang pernah mampir dan hadir dalam hidup saya:

Orang-orang yang pernah membuat saya sedih, kecewa, dan tertujlebbb-tujlebbbb luar biasa. Apapun kejadiannya. Apapun bentuknya.
Berkat kalianlah saya bisa belajar lebih banyak, melangkah lebih lebar, dan lebih bijaksana dalam bersikap.

Hari ini, pada kalianlah saya ingin mempersembahkan sebuah gelar bernama: PAHLAWAN.

:)

Selasa, 04 November 2014

Kelas Inspirasi – Ibu Rumah Tangga sebagai Profesi (episode 1)




Jakarta, pertengahan Agustus 2013.

Siang itu, sebuah email tiba.  Isinya undangan, ajakan berpartisipasi ke dalam program Kelas Inspirasi.

Seperti mendapatkan paket durian, rasanya luar biasa excited bin senang. Bagaimana tidak. Sejak Kelas Inspirasi pertama kali diselenggarakan, saya sudah kepingin ikutan. 

Kendati demikian, rasa itu perlahan-lahan berubah menjadi pertanyaan, "Bisanya kapan?". Dengan rutinitas dan kesibukan yang saya jalani saat itu, harapan hanyalah sekadar harapan yang tak kunjung terwujud. Nah sekarang, kalau beneran ikutan, mau berbagi tentang profesi apa?  Saya baru aja pensiun dini sebagai wartawan :D

Memang sih, waktu itu saya masih memiliki jubah sebagai ghost writer, contributing editor, dan social media strategist untuk beberapa klien. Tentunya saya lakukan sembari meluangkan waktu nambah-nambah ilmu seputar persalinan, natural healing, dan menyusui, dengan mengikuti sejumlah pelatihan. Namun sejujurnya, aktivitas saya sehari-hari yang benar-benar tetap itu ya… sebagai Ibu Rumah Tangga. Nemenin anak-anak, belanja ke pasar, masak, dan utak-atik di rumah.

Salah satu teman saya menyeletuk, “Ntar bukannya mengajak anak-anak itu bermimpi tinggi-tinggi, lo malah dikira mrospek anak-anak supaya memendam cita-cita. Jadi Ibu Rumah Tangga aja, deh. Toh, nggak ada gunanya juga sekolah tinggi. Ujung-ujungnya juga ngendon di rumah. Hahaha”

Siaul… 
Siapa bilang jadi Ibu Rumah Tangga itu nggak butuh pinter? Siapa bilang pula jadi Ibu Rumah Tangga itu kerjaannya cuma diemmm di rumah layaknya ayam betina mengerami telur?

BAYANGKEUN.. Mulai dari bangun pagi sampai beranjak tidur lagi, otak Ibu nggak berhenti muter. Saking muter terus, seorang perempuan yang menjalani aktivitasnya sebagai Ibu Rumah Tangga itu tanpa sadar sudah menjalani berbagai profesi sekaligus. Pengelola keuangan, iya. Tukang masak (atau manajernya), iya. Tukang pijat, iya. Supir roda dua maupun roda empat, iya. Penata rumah, iya. Masih baaaanyakkk lagi tambahan profesi lainnya, ditambah saat Pak Suami ada di rumah #ehhh ... dan yang paling berat menurut saya, jadi guru sekaligus teladan bagi anak-anak. 

Dengan catatan, profesi sebagai IRT tadi kita jalankan secara profesional.

PROFESIONAL, artinya dijalankan dengan penuh kesungguhan, tanggung jawab, dan komitmen. Bagaimanapun pelaksanaan teknisnya, dengan atau tanpa bantuan asisten di rumah. 

Yang nggak profesional itu seperti apa? Contohnya, mungkin bisa kita temukan sambil berkaca di depan cermin masing-masing. Saat anak butuh disapa, kita asyik main pesbuk. Saat rumah perlu diurus, kita lebih sibuk kepo dan nyinyirin stabilitas rumah tangga tetangga sebelah rumah. Uhukkkk…

So, setuju ya.. kalau jadi Ibu Rumah Tangga itu nggak gampang. Butuh niat, keikhlasan, ilmu, keterampilan, dan kesadaran dalam menjalani segala prosesnya.

...


Saat briefing tiba. Alhamdulillah, niat saya memperkenalkan profesi IRT tadi disambut panitia dengan suka cita. 

Salah satu peserta dari kelompok lain yang mendengar pembicaraan kami - saya lupa namanya, menghampiri dengan mata berkaca-kaca. 


“Saya juga Ibu Rumah Tangga. Selama ini saya berpikir, ijazah Master saya sia-sia belaka. Ternyata nggak. Menjadi Ibu Rumah Tangga itu butuh lebiiihhh dari sekadar Master, karena keterampilan menjalaninya nggak dipelajari dari sekolah formal”, katanya. 
Saya tercekat. Seperti kembali diingatkan, bahwa menjadi Ibu Rumah Tangga adalah profesi terhormat yang perlu dijalani dengan belajar tiada akhir. Apapun status kita sekarang. Baik sebagai ibu yang bekerja di rumah, ataupun di luar rumah.

Siang itu, kami resmi berpelukan dengan hati yang sama-sama basah :’)

...

Tulisan bersambung ke
Ketika Ibu Rumah Tangga Berpartisipasi di Kelas Inspirasi (Episode 2)

Minggu, 02 November 2014

Nyeri Mengajakmu untuk Tumbuh


gambar, dipinjam dari: http://shawnlindsey.org/


Belakangan ini, salah satu topik diskusi bersama Velma (9 tahun), adalah mengenai tumbuhnya tanda-tanda kelamin sekunder. Salah satunya, payudara.

Ia mengatakan, beberapa temannya mengaku daerah itu terkadang terasa nyeri. "Tapi, cuma kadang-kadang aja lho!", tegasnya.


Kami lalu membuka buku dan youtube mengenai pertumbuhan payudara, dan belajar bersama-sama. Dari sana Velma menyimpulkan, "Jadi kadang-kadang nyeri itu karena kelenjar di dalamnya sedang tumbuh makin besar ya? Kayak Jojo, dong. Mau gede, kakinya pegel-pegel juga. Mama juga kan, pas hamil perutnya tambah besar, jadi minta pijet melulu sama Papa. Hihihi..."

...

Saya mengangguk, merenung.

Betapa segala sesuatu yang hidup memiliki kesempatan untuk berkembang dan tumbuh. Pertumbuhan itu menimbulkan perubahan. Sementara perubahan demi perubahan itu, seringkali menimbulkan rasa tidak nyaman.

Teringat bahwa menjelang persalinan pun.. seorang manusia ditakdirkan untuk mengalami nyeri. Nyeri yang wajar. Sama wajarnya seperti manusia yang merasakan mulas sebelum buang air besar.

Nyeri hadir bukan untuk membuat kita "sakit". Nyeri hadir untuk memberikan pertanda, bahwa ada sebuah mekanisme luar biasa dalam tubuh kita yang sedang bekerja.

Tanpa ada rasa nyeri, Ibu hamil mungkin bisa berojolan di mana saja, tanpa ada persiapan sebelumnya. Tanpa ada rasa nyeri, seorang perempuan mungkin tidak terpacu untuk mengenali tubuhnya sendiri, belajar melatih rasa sabar, merasakan kasih sayang orang sekitar, sembari berzikir mengingat Sang Pencipta.

...

Ternyata, selain mengalami "nyeri pertumbuhan" secara fisik, manusia juga mengalami secara batiniah, dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kejadian-kejadian yang tak diharapkan. Melalui rencana-rencanaNya yang hadir di luar dugaan.

Seringkali, cara yang kita pilih adalah menyingkirkan ketidaknyamanan itu. Buang ajah, toh banyak jalan instan.

Berdamai dengan nyeri memang nggak gampang. Butuh niat, ilmu, keterampilan, dan komitmen tanpa putus dalam menjalani dan merawat segala prosesnya.

Karen Salmansohn, seorang penulis asal Amerika, berkata:

"Often it's deepest pain which empower you to grow into your highest self".


Seringkali rasa nyeri atau sakit "yang paling daleeeemm" yang kita alami tersebut, justru memberi kita kesempatan untuk belajar banyak, sekaligus bertransformasi dengan tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Lebih matang, lebih bijak.

Mungkin karena itulah, salah satu life skill yang perlu kita latih dalam hidup.... adalah berdamai dengan rasa "nyeri" dan tidak nyaman.

~ a note to my self