Foto saya
Mama dua anak, istri dari satu suami. Kini menjalani aktivitas sebagai konselor menyusui, doula persalinan, tukang motret, dan supir pribadinya anak-anak. Rumah ini berisi catatan randomnya, dalam belajar hidup sebagai manusia.

Sabtu, 08 Desember 2007

Ibu (Mertua)-ku Sayang!


“…Untuk beberapa saat kami sama-sama merasa kikuk dan serba salah. Tapi ternyata itulah saat pertama kali gunung es di antara kami mulai mencair…”




Mama dipanggil Tuhan saat saya masih duduk di bangku SMA. Selama dua tahun, mama berjuang melawan kanker payudara. Semangat hidupnya begitu hebat. Beliau ingin sekali menyaksikan kedua putrinya –saya dan Nisa, adik saya- menikah. Dulu, kami bertiga sering berandai-andai bahwa kelak saat kami telah menikah, mama akan memasak spesial setiap kali kami datang berkunjung bersama pasangan dan anak-anak kami – cucu mama. 

Mama dan kedua putrinya memang bagaikan sahabat, tanpa mengurangi rasa hormat kami pada beliau sebagai orangtua. Mama adalah orang pertama yang saya cari ketika saya ingin curhat, tentang apa saja. Tapi apalah daya, sebagai manusia yang hanya bisa berencana, Tuhan telah memutuskan. Mama pergi meninggalkan kami yang saat itu masih membutuhkan bimbingannya, untuk tumbuh dan menjadi wanita dewasa.

Saya menikah lima tahun setelah mama pergi. Menghadapi hidup baru sebagai seorang istri dan anggota baru bagi keluarga suami bukanlah hal mudah. Cerita dari kakak ipar tentang karakter ibu mertua yang cenderung dominan dan terkadang membawa kegelisahan tersendiri bagi menantu-menantunya membuat saya sempat stress. 

Apalagi, banyak artikel yang juga memuat cerita tentang konflik antara menantu perempuan dan ibu mertua. Oh, alangkah enggannya saya mengalami itu semua. Artikel-artikel dan informasi lain berupa tips yang saya dapat belum mampu menenangkan kekhawatiran. Saya merasa semua hanya teori belaka. Ditambah lagi, dua bulan setelah menikah saya hamil dan mengikuti suami bekerja di kota lain yang tak ada satupun famili berdomisili di sana.

Saya benar-benar merasa sendiri dan bingung. Tahu apa sih saya tentang kehamilan? Tentang mengasuh bayi yang baru lahir dan menangis hampir setiap jam? Saya mencoba menenangkan diri dengan mencari informasi sebanyak mungkin dari majalah. Pengetahuan saya memang bertambah. Saya merasa lebih percaya diri menyambut kehadiran si kecil. 

Meskipun demikian, rasa gelisah itu tetap mengganggu pikiran....

Sampai suatu ketika, di usia kehamilan yang ketujuh ibu mertua menelepon dan mengatakan akan tinggal beberapa waktu di Jakarta untuk menemani saya. Ingat berbagai permasalahan antara mertua-menantu yang pernah saya baca dan omongan kakak ipar yang bernada “harap maklum”, kegelisahan saya justru menjadi-jadi. Saya takut ibu mertua akan memprotes cara saya merawat si kecil kelak saat ia lahir. Saya khawatir ibu mertua akan mencampuri urusan saya dan suami. Saya khawatir apa yang saya lakukan akan salah di mata beliau. Intinya, kedatangan beliau justru membuat saya bagai seorang paranoid.

Beberapa hari sebelum beliau datang, saya sibuk mengganti tirai dan membersihkan rumah. Saya sibuk dengan kegelisahan saya hingga akhirnya saat beliau datang saya jatuh sakit, kelelahan.

Dalam kondisi seperti itu, saya “terpaksa” pasrah menerima keadaan. Apa saja yang terjadi?

Pertama, ibu memasak banyak makanan. Saya sempat protes dalam hati, “masak kok begini banyak sih?? Kayak ada sepuluh anggota keluarga saja!!”. 

Kedua, ibu membeli dua lusin gelas dan piring yang coraknya (menurut saya) sangat out of date. Ketiga, keempat dan seterusnya adalah hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan saya. Tapi, rasanya ibu mertua cuek saja. Beliau melakukan apa saja seolah rumah saya adalah “rumahnya”. 

Pada suatu malam, ibu tampak tak sesemangat biasanya. Beliau duduk, kedua tangannya memijat-mijat tengkuk. Ketika saya tanya keadaannya, ternyata beliau kurang enak badan. Mungkin kelelahan karena terlalu bersemangat membereskan rumah dan berbelanja untuk menyambut kehadiran calon cucunya. 

Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu tangan saya sudah terulur ke pundak ibu mertua. Memijit pundaknya. 

Untuk beberapa saat, kami sama-sama kikuk dan serba salah. Tapi ternyata, itulah saat pertama kali gunung es di antara kami mulai mencair.

“Mmmm… Ibu bilang saja sama saya kalau memang butuh dipijit. Biarpun ngga seenak tukang pijat langganan ibu di Yogya, tapi pijatan saya lumayan juga kok”, kata saya membuka pembicaraan sambil memijat pundaknya.

Tanpa diduga, ibu meraih tangan saya dan tersenyum. 
Lalu katanya, “Kamu memang menantu yang baik!”



..........


Syukurlah, kini masa-masa “mengerikan” sebagai menantu baru itu telah berlalu. 

Saat saya melahirkan, ibu menjadi orang yang siap membantu kapanpun saya butuhkan. Di hari-hari pertama kelahiran Velma (putri saya yang sekarang telah berusia 13 bulan) ibu rela mengambil cuti dan menetap sementara di Jakarta, demi Si Menantu.. 

Dengan telaten, beliau membuat daun sirih yang dipanggang dan diolesi minyak kelapa untuk mengobati luka pada puting payudara saya. Awalnya, saya sempat “under estimate” dengan resepnya itu. Buat saya, cukup dioles ASI saja (dan memperbaiki perlekatan, tentunya) nanti luka saya akan sembuh dengan sendirinya. 

Ternyata, olesan ASI ditambah daun sirih buatan ibu itu luka saya mengering jauh lebih cepat. 

Berdasarkan kejadian itu, saya merenung. Rupanya sekedar teori saja belum cukup. Hasilnya kok lebih baik jika digabungkan dengan pengalaman #catet..

Tak hanya itu lho. Setiap hari, beliau memasak sayur daun katuk dan kacang hijau agar ASI saya "mengalir deras". Beliau mengambil alih semua urusan rumah tangga, dan membimbing Si Mbak ART dalam melakukan beberapa pekerjaan, saat saya masih lemah sisa persalinan. Lucunya, kali ini saya tak lagi uring-uringan :p 

Ada juga saat-saat saya melarang ibu mengerjakan sesuatu di rumah. Contohnya, saat beliau berniat memasak sendiri saja hidangan untuk para tamu di acara syukuran akikah Velma. Pikir saya, yang benar saja! Bisa-bisa nanti saya dikira “mempekerjakan” ibu mertua. Saya tahu banget sih, ibu paling senang memasak. Memasak bagi beliau bukan sekedar menyalurkan hobi. Melainkan juga eksistensi sebagai nenek yang ingin memberikan sesuatu untuk cucu satu-satunya, yang berdomisili di luar kota. Tapi karena Ibu juga ngotot kepingin tetap memasak, akhirnya kami bermusyawarah. Demi menjaga stamina dan menyalurkan keinginannya, ibu hanya memasak sebagian hidangan saja. Sisanya, kami serahkan pada catering. Tentu saja, hidangan yang dimasak ibu adalah hidangan khas yang lezatnya tak akan kami temui tandingannya di manapun!

Kali ini, apa yang diperbuat ibu mertua tak lagi selalu salah. Saya sudah merevisi semua konsep dan pikiran tentang kami berdua. Saya tak mau lagi terlalu percaya pada teori atau cerita seram tentang ibu mertua dan menantu perempuannya. Disadari atau tidak, cerita-cerita itu memberikan efek yang negatif untuk saya. Saya jadi terpengaruh, jadi mudah apriori dan ya.. paranoid itu tadi. Efeknya, justru dapat memperburuk hubungan kami sendiri.

Alih-alih percaya pada artikel media, akhirnya saya memilih untuk mengandalkan intuisi. Nah, ada beberapa hal yang saya garis bawahi dalam rangka menjalin hubungan romantis bersama Ibu Mertua:

Pertama, niat. Ketika saya mulai menancapkan niat untuk menganggap ibu mertua sebagai ibu saya sendiri, semua terasa jauh lebih ringan. Saya mendoktrin dan melatih diri untuk tak lagi memanggil beliau “ibu mertua”, melainkan “IBU” saja. Dengan menganggap beliau sebagai ibu saya sendiri saya merasa lebih mudah memaklumi kekurangannya, lebih mudah menyampaikan isi hati saya (meski tetap dengan cara “istimewa”), dan lebih mudah berempati kepadanya. Siapa tahu saya akan melakukan hal yang sama seperti beliau, dua puluh lima tahun mendatang??? Apapun yang beliau lakukan, pasti diawali dengan keinginan untuk memberi yang “terbaik” bagi kehidupan keluarga anaknya, bukan? J

Kedua, saya mengistilahkannya dengan “kompromi”. Saya sadar bahwa konflik bisa terjadi pada siapapun, kapanpun dan di manapun. Termasuk dalam hubungan saya dengan ibu mertua. Yang saya lakukan adalah mencoba lebih santai dan toleran dalam menghadapi permasalahan yang ada. Ketika ibu “protes” karena Velma tak memakai gurita di 40 hari pertama hidupnya, saya jelaskan pelan-pelan bahwa sekarang ini pemakaian gurita dengan kencang pada bayi sudah tak dianjurkan lagi oleh dunia kedokteran karena dapat mengganggu pernafasan. Saya juga tunjukkan pada beliau artikel-artikel dari beberapa media tentang itu. Ketika ibu bersikeras gurita tetap harus dipakai (dengan alasan hal itu sudah jadi tradisi, saya pun mengambil jalan tengah: Velma memakai gurita, tapi dengan dengan ikatan yang longgar. Ketika Ibu sudah kembali ke Jogja, gurita Velma pun kembali tersimpan rapi di lemari. Hehehe…

Ketiga, lakukan apapun dengan tulus. Meskipun hanya membelikan obat penyubur bunga anggrek atau buku resep masakan untuk beliau. Hal-hal “kecil” itu ternyata efeknya luar biasa. Saya pikir, pasti bukan dari jenis atau nilainya. Melainkan dari “besar”nya ketulusan dan cinta saya untuk beliau. Ya, saya merasa belum sanggup melakukan hal-hal besar. Saya hanya berusaha melakukan hal-hal “kecil” dengan cinta yang “besar” dengan segenap kemampuan.

Sampai sekarang, kerikil-kerikil dalam hubungan kami pasti tetap ada. Namun syukurlah, kerikil-kerikil kecil dalam hubungan kami tak menjadi penghalang. Justru kerikil-kerikil itu sedang kami susun bersama agar menjadi pemanis dalam hubungan kami berdua. 

Sekarang, ibu tak pernah ragu meminta saya untuk memijit tubuhnya. Kami juga jadi pasangan kompak dalam hal memasak dan jalan-jalan. Kata beliau sih, enakan jalan-jalan sama saya daripada sama suami, karena ngga ada yang mengajak buru-buru pulang. Kami bahkan pernah jalan-jalan seharian, menyambangi empat buah mall di kawasan Jakarta Selatan sekaligus! Yah… meski pulangnya harus berpegal-pegal ria, dan kami pun saling bergantian memijat di rumah. Hihihi….


(dimuat di majalah PARENTING Indonesia, edisi Desember 2006)

2 komentar: