Foto saya
Mama dua anak, istri dari satu suami. Kini menjalani aktivitas sebagai konselor menyusui, doula persalinan, tukang motret, dan supir pribadinya anak-anak. Rumah ini berisi catatan randomnya, dalam belajar hidup sebagai manusia.

Minggu, 04 Oktober 2015

Merencanakan Piknik, Merayakan Cinta


Piknik itu penting. 
Sepenting kita memilih berbahagia.


gambar dipinjam dari: http://www.wix.com/blog/2013/08/15-original-picnic-ideas-for-labor-day/



Siang terang benderang. Sinar matahari memancarkan cahaya nan menyilaukan.

Namun anak usia empat tahun itu tak peduli. Ia tetap melapisi sekujur tubuhnya dengan sarung. Memasang kaus kaki. Memeluk boneka beruang. Berbaring di atas rerumputan sambil telentang. Menatap jauh dan tinggi ke angkasa.

Di sebelahnya, duduk Sang Mama sambil memangku sebuah buku. Membawakan sebuah kisah tentang bintang-bintang. “Mau jadi  bintang kecil yang kerlap-kerlip? Ayo kita kedip-kedipin mata”, kata Si Mama. Mereka lalu mengerjap-ngerjapkan mata, tergelak bersama.

 “… Aku ingin terbang dan menari
jauh tinggi, ke tempat kau berada”

Ketika lagu Bintang Kecil resmi dinyanyikan, saat itu juga Si Anak membayangkan. Ini sudah waktunya tidur. Mereka berdua lalu merangkak ke bawah meja. Tidur berpelukan di dalam kemah-kemahan. Seolah-olah hari sudah larut malam.


Tiga puluh tahun berlalu. 


Mama yang dulu setia menemani berkemah di bawah meja itu, kini telah tiada.  Namun sebelum berpulang, ia telah mewariskan sebuah kenangan. Tentang indahnya berpiknik di bawah meja. Tentang menikmati waktu bersama orang tersayang. Melepas penat dan gelisah, tertawa, bercerita, saling menyentuh dan menatap mata. Merayakan cinta.

Sekarang, anak usia empat tahun itu sudah menikah dan jadi Ibu. Anaknya ada dua. Velma dan Jojo namanya. Velma murid Sekolah Dasar kelas lima. Sedangkan Jojo, baru masuk Taman Kanak-Kanak. 
Seperti ibunya di masa belia, Jojo dan Velma juga punya ritual merayakan cinta. Sekurang-kurangnya seminggu sekali, mereka piknik berempat bersama Ibu dan Ayah. Dan sekurang-kurangnya tiga bulan sekali, Ibu dan Ayah mereka juga berpiknik bersama teman-teman.

Tempatnya bermacam-macam. Pantai, gunung, hutan, taman, halaman rumah, hingga kolong meja.

di taman dekat rumah [dok.pribadi]


berjemur, bermain pasir [dok.pribadi]

mewariskan cerita, mengenal kembali kearifan budaya [dok.pribadi]

sesekali pergi berdua saja [dok.pribadi]


merayakan momen kembali jadi "anak kecil" [dok.pribadi]


piknik di rumah sambil memanfaatkan barang bekas [dok.pribadi]

ceritanya, sedang berjemur di pantai [dok.pribadi]




Hati-hati.

Kurang piknik menyebabkan perasaan jadi serba sensitif, mudah gelisah, dan menimbulkan hasrat nyinyir berlebihan.

Begitu kata orang :)

Di manapun lokasinya, dengan siapapun kita kesana, saya setuju piknik itu penting. Sebab saat piknik, kita berkesempatan meninggalkan rutinitas barang sejenak, melepaskan penat, untuk berkunjung ke “dunia lain”. Memandang dari sudut yang berbeda dari biasanya.

Jika dilakukan di tempat terbuka seperti taman, tanah lapang, hutan, pantai, atau pegunungan, kita berkesempatan untuk menyapa alam. Menginjak rerumputan. Merasakan belaian angin. Mengijinkan diri dipeluk kehangatan sinar mentari. Bertemu capung, mendengar gesekan daun-daun.  

Sementara jika dilakukan di dalam rumah, kita berkesempatan untuk berkenalan (lagi!) dan bermesraan dengan diri sendiri. Berdamai dengan situasi dan kondisi. Menerima. Bersyukur. Memanfaatkan apa yang ada. Membuat timbunan sampah jadi benda yang lebih berharga. Menggunakan benda-benda yang ada menjadi lebih banyak fungsinya. “Kalau kita piknik di dalam rumah, maka selimut, kardus, payung, dan bantal ini bisa manfaatkan jadi apa, ya?”, begitu kira-kira. Kreativitas mengalir, ide memancing gairah untuk menciptakan karya.
  ...

Bagaimana jika dilakukan di alam terbuka, sekaligus dalam ruangan – yang suasananya berbeda dengan yang biasa kita temui sehari-hari? 

Bermalam di luar kota, dan liburan ke Bogor, misalnya?

Itu namanya rejeki. Sebab, kita bisa mendapatkan semuanya: Menyerap energi dari alam, iya. Memanfaatkan suasana baru untuk memanjakan diri dan keluarga, iya juga. 

Di sana, kita:

  • Mau bangun pagi, yoga, napak bumi sambil mandi cahaya matahari... bisa.
  • Mau bangun siang, malas-malasan di ranjang, lalu nyemplung ke kolam renang… oke.
  • Mau duduk bengong di sofa, menyeruput secangkir kopi sambil menikmati waktu yang bergerak lambathayuk saja.

piknik bersama sahabat atau keluarga seperti ini, bisa dilakukan di hotel juga [dok.pribadi]

Kalaupun enggan keluar dari kamar, mau sarapan di atas kasur, menenggelamkan diri di dalam selimut, lalu nonton teve (baca novel, menggambar, menulis, you name it!) seharian pun… tak masalah :)

Satu hal yang barangkali perlu kita catat dan ingat bersama:

PIKNIK ADALAH MOMEN MERAYAKAN CINTA. Sebuah perjalanan untuk merasakan kehadiranNya, dalam setiap keindahan yang kita rasa.

dok.pribadi


Maka, dimanapun kita berpiknik, dengan siapapun, apapun yang dilakukan, alangkah bijaknya jika momen merayakan bahagia itu tidak membuat makhluk lain dan lingkungan jadi cedera.

  • Gunakan tisu, listrik, sabun cuci dan kertas seperlunya. 
  • HIndari penggunaan styrofoam dan plastik. Utamakan membawa dan menggunakan peralatan yang bisa digunakan kembali dan mudah didaur ulang.
  • Habiskan makanan yang sudah dipesan atau kita siapkan. 
  • Rapikan kembali fasilitas yang digunakan. 
  •  Buang sampah pada tempatnya. 
  • Beli produk lokal. Jangan sadis-sadis saat menawar :)

Dengan demikian, semoga piknik yang kita lakukan mampu mengistirahatkan pikiran, membangkitkan keseimbangan, menambah kepekaan, meningkatkan kecerdasan, mengembalikan “kewarasan”, dan berbagi kasih sayang. 

Pada diri sendiri, juga alam semesta seisinya.**


Glosari: 
Napak bumi: berjalan tanpa menggunakan alas kaki

Tulisan diikutsertakan dalam Lomba Blog "Piknik Itu Penting"
 







Rabu, 16 September 2015

Menyikapi Kontroversi



 
http://malay.cri.cn/mmsource/images/2013/03/21/salam1303221.JPG


Alkisah, ada empat orang buta belajar tentang gajah.

Yang pertama berdiri di bagian belakangnya, orang kedua berdiri di samping kakinya, yang ketiga memilih berada di dekat perutnya, dan yang terakhir, berdiri persis di depan tubuh si gajah.

Orang yang berdiri di belakang mengatakan, “Wah, ternyata gajah itu kecil dan panjang, ya. Tubuhnya mirip ular, tapi punya rambut seperti manusia”.

Orang yang berdiri di samping kaki menyanggah. Katanya, “Kamu salah! Gajah itu bentuknya seperti pilar yang bulat dan tebal. Oh, mirip juga dengan batang pohon berusia ratusan tahun”.

Mendengar itu, orang yang berjongkok di dekat perut gajah tertawa terbahak-bahak. “Kalian ini gimana sih! Gajah itu kan bulat dan empuk seperti bantal!” sebutnya, sambil mengelus-elus perut si gajah. Dengan wajah pongah.

Orang buta yang berdiri di depan tubuh gajah terdiam. Tangannya berusaha meraba dan mengamati si gajah lebih seksama. Keningnya berkerut sejenak.

Hingga akhirnya dengan senyum lebar, ia berteriak lantang. Melebihi suara lantang teman-temannya,  "Hei kalian semua, sini aku kasih pencerahan. Gajah itu nggak seperti yang kalian bilang. Tubuhnya panjang, lunak, dan…. iiihh bikin geli tau  kalo dipegang!", katanya, girang.


Orang buta lainnya tak terima. Mereka adu mulut. Saling menjejalkan “kebenaran”. Bergelut. Lalu saling menikam hingga mati. Meninggalkan ego mereka yang tertawa-tawa sambil menepuk dada: menang lagi, lagi, dan lagi.


….

Ketika menghadapi perbedaan pendapat, biasanya yang segera terpikir dalam kepala kita adalah sebuah pertanyaan: mana yang benar?

Kita pun mulai mencari orang yang yang sudah pernah melalui perjalanan itu, terlebih dahulu. Yang kita anggap lebih tahu. Lebih ahli. Lalu memutuskan untuk percaya saja pada “kebenaran” itu.

Ketika kemudian orang dengan kapasitas “ahli” dengan pendapat lain datang, kita pun galau. Terombang-ambing pada pertanyaan, “Kebenaran mana yang lebih benar?”. Atau bisa juga, mencoba memantapkan hati untuk memilih salah satu agar punya kawan, lalu ikut menyerang yang lain. Semata-mata agar kita merasa lebih aman dan “kebenaran” yang kita anut tak punya saingan.

Dalam menghadapi kontroversi, saya belajar… bahwa “kebenaran” manusia bersifat sangat relatif.  Bahwa sebuah pendapat, hasil pandangan, sesungguhnya dipengaruhi oleh banyak hal. Mulai dari sebelah mana si pemilik pandangan itu berdiri, seberapa jarak ia berdiri dengan objek yang diamati, kacamata jenis apa yang ia gunakan, lensa apa yang ia pilih, adakah filter yang ditambahkan, nilai seperti apa yang ia anut, dan bagaimana pengalaman sebelumnya terhadap objek yang sedang ia pandangi tadi.


Seseorang yang memiliki pengalaman tragis, bahkan terbiasa menghadapi tragedi tentang persalinan, misalnya, mungkin saja sulit menerima “kebenaran” orang lain yang bilang bahwa persalinan itu sejatinya merupakan peristiwa alamiah, indah, tenang, dan sakral, sesuai dengan pengalaman yang ia rasakan.

Seseorang yang proses menyusuinya penuh drama, mungkin juga akan mencak-mencak tak terima ketika ada orang lain yang bilang, bahwa menyusui itu menyenangkan.

dan masih banyak lagi contoh yang lainnya :)

....

Kita adalah orang-orang buta yang merasa pintar hanya karena pernah sekolah, pernah belajar, atau mungkin merasa menguasai bidang tertentu.

Namun kita sering lupa, bahwa segala sesuatu di dalam dunia ini sejatinya hadir sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi dan menyeimbangkan.

Boleh saja mempelajari satu bidang ilmu secara lebih dekat, lebih detil. Namun jangan lupa untuk jinakkan juga ego, mundur sejenak, dan berpindah sudut pandang. Agar obyek yang kita lihat menjadi lebih luas. Agar yang kita ulik bukan cuma ekornya, belalainya, perutnya, kupingnya, atau perutnya saja – dan terburu napsu mengklaim kita sudah mengenal sebuah makhluk bernama gajah.

Ketika kita saling belajar memahami sudut pandang orang lain, kacamata orang lain,  lensa orang lain, ukuran orang lain, nilai yang diyakini orang lain, yang terjadi sesungguhnya (mungkin) justru pengertian dan koneksitas yang mendalam. Bahkan mungkin juga bersifat mencerahkan. Karena hanya dengan ini, lapis demi lapis lensa itu bisa terkikis. Dan bukan tidak mungkin, tanpa lensa dan filter apapun, kita jadi mampu mengintip indahnya kebenaran yang sesungguhnya. Indahnya sisi hati lain. “Kebenaran” dalam bentuk lain. Yang mungkin tidak kita miliki, ataupun terpikir sebelumnya.

Semoga pengalaman ini akan menjadi pengingat saya dalam terus berevolusi.  Bergulir dengan cinta lengkap dengan mata dan hati. Sambil terus mencoba mengingatkan diri sendiri untuk mengapresiasi keindahan tak kasat mata, yang sesungguhnya tersebar di sekitar… atas nama perbedaan pendapat. 

Sebagai motivasi untuk terus berproses, membuka diri dan belajar memahami ilmuNya yang maha luas dan tak terbatas.

....

Pada suatu hari,  lewatlah seorang anak kecil yang tak tahu apa-apa, bersama Ibunya, ke tempat gajah yang sama. Ketika melihat si gajah, alisnya mengernyit sampai matanya sipit.

“Ibu, itu makhluk apa?”, kata anak kecil itu.

Sang Ibu menjawab, “Ibu juga tidak tahu, anakku. Tapi mari kita amati dia, dari berbagai arah.

Dengan penuh kesabaran, Ibu itu mendampingi anaknya mengitari tubuh gajah. Mulai dari arah depan, samping, berputar ke belakang. Ia ijinkan tangan si anak menyentuh, meraba, merasakan, dengan segenap panca indera.

“Bagaimana menurutmu, anakku? Seperti apakah makhluk yang kau pelajari itu?”

“Ibu, makhluk besar ini punya hidung yang panjang, telinga yang lebar, perut yang gendut, serta ekor kurus yang berambut,” jawab sang anak dengan lugu.

Sang Ibu tersenyum sambil mengangguk. Ia mengusap-usap lembut kepala si anak, menggamit tangan kecilnya, lalu berjalan kembali. “Teruskan proses belajarmu itu”.


Saat kita merasa pintar, 
saat itulah kita resmi bodoh – anonim.


Jakarta, 17 September 2015
Sekadar catatan dan pengingat diri, agar terus menjadi anak kecil yang bodoh dan lugu