Foto saya
Mama dua anak, istri dari satu suami. Kini menjalani aktivitas sebagai konselor menyusui, doula persalinan, tukang motret, dan supir pribadinya anak-anak. Rumah ini berisi catatan randomnya, dalam belajar hidup sebagai manusia.

Rabu, 16 September 2015

Menyikapi Kontroversi



 
http://malay.cri.cn/mmsource/images/2013/03/21/salam1303221.JPG


Alkisah, ada empat orang buta belajar tentang gajah.

Yang pertama berdiri di bagian belakangnya, orang kedua berdiri di samping kakinya, yang ketiga memilih berada di dekat perutnya, dan yang terakhir, berdiri persis di depan tubuh si gajah.

Orang yang berdiri di belakang mengatakan, “Wah, ternyata gajah itu kecil dan panjang, ya. Tubuhnya mirip ular, tapi punya rambut seperti manusia”.

Orang yang berdiri di samping kaki menyanggah. Katanya, “Kamu salah! Gajah itu bentuknya seperti pilar yang bulat dan tebal. Oh, mirip juga dengan batang pohon berusia ratusan tahun”.

Mendengar itu, orang yang berjongkok di dekat perut gajah tertawa terbahak-bahak. “Kalian ini gimana sih! Gajah itu kan bulat dan empuk seperti bantal!” sebutnya, sambil mengelus-elus perut si gajah. Dengan wajah pongah.

Orang buta yang berdiri di depan tubuh gajah terdiam. Tangannya berusaha meraba dan mengamati si gajah lebih seksama. Keningnya berkerut sejenak.

Hingga akhirnya dengan senyum lebar, ia berteriak lantang. Melebihi suara lantang teman-temannya,  "Hei kalian semua, sini aku kasih pencerahan. Gajah itu nggak seperti yang kalian bilang. Tubuhnya panjang, lunak, dan…. iiihh bikin geli tau  kalo dipegang!", katanya, girang.


Orang buta lainnya tak terima. Mereka adu mulut. Saling menjejalkan “kebenaran”. Bergelut. Lalu saling menikam hingga mati. Meninggalkan ego mereka yang tertawa-tawa sambil menepuk dada: menang lagi, lagi, dan lagi.


….

Ketika menghadapi perbedaan pendapat, biasanya yang segera terpikir dalam kepala kita adalah sebuah pertanyaan: mana yang benar?

Kita pun mulai mencari orang yang yang sudah pernah melalui perjalanan itu, terlebih dahulu. Yang kita anggap lebih tahu. Lebih ahli. Lalu memutuskan untuk percaya saja pada “kebenaran” itu.

Ketika kemudian orang dengan kapasitas “ahli” dengan pendapat lain datang, kita pun galau. Terombang-ambing pada pertanyaan, “Kebenaran mana yang lebih benar?”. Atau bisa juga, mencoba memantapkan hati untuk memilih salah satu agar punya kawan, lalu ikut menyerang yang lain. Semata-mata agar kita merasa lebih aman dan “kebenaran” yang kita anut tak punya saingan.

Dalam menghadapi kontroversi, saya belajar… bahwa “kebenaran” manusia bersifat sangat relatif.  Bahwa sebuah pendapat, hasil pandangan, sesungguhnya dipengaruhi oleh banyak hal. Mulai dari sebelah mana si pemilik pandangan itu berdiri, seberapa jarak ia berdiri dengan objek yang diamati, kacamata jenis apa yang ia gunakan, lensa apa yang ia pilih, adakah filter yang ditambahkan, nilai seperti apa yang ia anut, dan bagaimana pengalaman sebelumnya terhadap objek yang sedang ia pandangi tadi.


Seseorang yang memiliki pengalaman tragis, bahkan terbiasa menghadapi tragedi tentang persalinan, misalnya, mungkin saja sulit menerima “kebenaran” orang lain yang bilang bahwa persalinan itu sejatinya merupakan peristiwa alamiah, indah, tenang, dan sakral, sesuai dengan pengalaman yang ia rasakan.

Seseorang yang proses menyusuinya penuh drama, mungkin juga akan mencak-mencak tak terima ketika ada orang lain yang bilang, bahwa menyusui itu menyenangkan.

dan masih banyak lagi contoh yang lainnya :)

....

Kita adalah orang-orang buta yang merasa pintar hanya karena pernah sekolah, pernah belajar, atau mungkin merasa menguasai bidang tertentu.

Namun kita sering lupa, bahwa segala sesuatu di dalam dunia ini sejatinya hadir sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi dan menyeimbangkan.

Boleh saja mempelajari satu bidang ilmu secara lebih dekat, lebih detil. Namun jangan lupa untuk jinakkan juga ego, mundur sejenak, dan berpindah sudut pandang. Agar obyek yang kita lihat menjadi lebih luas. Agar yang kita ulik bukan cuma ekornya, belalainya, perutnya, kupingnya, atau perutnya saja – dan terburu napsu mengklaim kita sudah mengenal sebuah makhluk bernama gajah.

Ketika kita saling belajar memahami sudut pandang orang lain, kacamata orang lain,  lensa orang lain, ukuran orang lain, nilai yang diyakini orang lain, yang terjadi sesungguhnya (mungkin) justru pengertian dan koneksitas yang mendalam. Bahkan mungkin juga bersifat mencerahkan. Karena hanya dengan ini, lapis demi lapis lensa itu bisa terkikis. Dan bukan tidak mungkin, tanpa lensa dan filter apapun, kita jadi mampu mengintip indahnya kebenaran yang sesungguhnya. Indahnya sisi hati lain. “Kebenaran” dalam bentuk lain. Yang mungkin tidak kita miliki, ataupun terpikir sebelumnya.

Semoga pengalaman ini akan menjadi pengingat saya dalam terus berevolusi.  Bergulir dengan cinta lengkap dengan mata dan hati. Sambil terus mencoba mengingatkan diri sendiri untuk mengapresiasi keindahan tak kasat mata, yang sesungguhnya tersebar di sekitar… atas nama perbedaan pendapat. 

Sebagai motivasi untuk terus berproses, membuka diri dan belajar memahami ilmuNya yang maha luas dan tak terbatas.

....

Pada suatu hari,  lewatlah seorang anak kecil yang tak tahu apa-apa, bersama Ibunya, ke tempat gajah yang sama. Ketika melihat si gajah, alisnya mengernyit sampai matanya sipit.

“Ibu, itu makhluk apa?”, kata anak kecil itu.

Sang Ibu menjawab, “Ibu juga tidak tahu, anakku. Tapi mari kita amati dia, dari berbagai arah.

Dengan penuh kesabaran, Ibu itu mendampingi anaknya mengitari tubuh gajah. Mulai dari arah depan, samping, berputar ke belakang. Ia ijinkan tangan si anak menyentuh, meraba, merasakan, dengan segenap panca indera.

“Bagaimana menurutmu, anakku? Seperti apakah makhluk yang kau pelajari itu?”

“Ibu, makhluk besar ini punya hidung yang panjang, telinga yang lebar, perut yang gendut, serta ekor kurus yang berambut,” jawab sang anak dengan lugu.

Sang Ibu tersenyum sambil mengangguk. Ia mengusap-usap lembut kepala si anak, menggamit tangan kecilnya, lalu berjalan kembali. “Teruskan proses belajarmu itu”.


Saat kita merasa pintar, 
saat itulah kita resmi bodoh – anonim.


Jakarta, 17 September 2015
Sekadar catatan dan pengingat diri, agar terus menjadi anak kecil yang bodoh dan lugu








Selasa, 11 Agustus 2015

Saya Sudah Berhenti Menyusui, dan akan Merayakan "World Breastfeeding Week" Setiap Hari

Sebuah catatan mengapa dunia punya waktu khusus untuk merayakan proses menyusui, mengapa ada manusia yang berbahagia merayakan sebuah proses bernama menyusui, dan mengapa kita perlu belajar ikut berbahagia menyaksikan kebahagiaan mereka. 



dokumentasi pribadi


Pekan ASI Sedunia yang diperingati pada tanggal 1-7 Agustus sudah berakhir. Meskipun Velma (10 tahun), pernah minum formula, dan Jojo (4 tahun 5 bulan), telah resmi berhenti menyusu, saya memilih untuk melanjutkan “perayaan” itu. 

Termasuk di antaranya, berjuang menyingkirkan segala kemalasan, meluangkan waktu secara khusus, bikin tulisan dan posting tentang perayaan ini di blog (yang aslinya jarang diisi).

Perlu diketahui, buat saya ini bukan tentang memicu kebanggaan memberi ASI. Bukan juga tentang membuat rasa bersalah pada Ibu yang “nggak ngASI” semakin menggunung.

Ini tentang PESAN mengapa dunia punya waktu khusus untuk merayakan proses menyusui dan ada manusia yang dengan bahagia merayakan sebuah proses bernama menyusui. 

Pesan yang selayaknya dipahami alasannya oleh semua orang: Yang mengaku sayang pada buah hati. Yang mengaku simpati sama ibu-ibu yang nggak bisa memberikan ASI. Juga yang mengaku peduli pada nasib generASI, anak cucu kita sendiri. Sebuah cara agar saya bisa terus mengingatkan diri sendiri.


Kenapa ada perayaan menyusui?

Menyusui memang sesuatu yang kodrati. Proses alamiah, kata banyak orang. Meskipun demikian, bukan berarti prosesnya berjalan secara otomatis dan bebas hambatan. Pola pikir serba instan, modernisasi, kecanggihan teknologi, industrialisasi, kurangnya informasi, dan masih banyak lagi, ternyata memberikan tantangan tersendiri bagi Ibu. Bahkan untuk sekadar menyusui bayi dengan air susu yang keluar dari payudaranya sendiri.

Itu sebabnya, saya setuju ungkapan seorang blogger yang belakangan tulisannya tentang WBW memicu kontroversi, bahwa “Bagi sebagian orang, memberikan ASI itu perjuangan luar biasa”.

Saking “luar biasa” perjuangan Ibu-ibu seperti kita, Lancet mempublikasikan sebuah penelitian yang menemukan bahwa jumlah bayi yang menyusu secara ekslusif selama enam bulan pertama di dunia ini sebanyak 38 persen. Iyess, hanya 38 persen.

Menyadari akan pentingnya ASI (dan proses menyusui) bagi Ibu maupun bayi, The World Health Assembly prihatin sekali dengan angka tadi. Mereka lalu mencanangkan target. Agar sepuluh tahun lagi, minimal sebanyak 50 persen dari bayi yang ada di dunia dapat menyusu secara ekslusif. Alias ASI saja, selama enam bulan pertama.

Memang sih, selisih angka yang diperjuangkan “cuma” 12 persen. Namun demi mencapai angka yang sekilas tampak tak seberapa ini, berbagai pihak bertekad merobohkan semua hambatan yang hadir dalam proses menyusui. 

http://www.who.int/nutrition/global-target-2025/infographic_breastfeeding.pdf?ua=1

Tahun 2015, World Alliance for Breastfeeding Action (WABA), badan kampanye global tentang menyusui, bekerjasama dengan International Labour Organization (ILO), organisasi pekerja internasional, mengangkat tema “Breastfeeding and Work – Let’s Make it Work” yang kurang lebih artinya, “Menyusui dan Bekerja – Bisa, Kok!”. 

Tema ini dipilih sebagai bentuk dukungan untuk Ibu menyusui yang juga harus bekerja. Baik karena desakan ekonomi keluarga, faktor budaya, hingga faktor pribadi yang nggak perlu kita kepoin alasannya.

Dilakukan oleh sekitar 120 negara di dunia, Indonesia juga turut memanfatkan Pekan ASI Sedunia sebagai kesempatan “menepuk pundak” berbagai kalangan. Mengingatkan kembali dan bareng-bareng mencari solusi. Supaya Ibu menyusui bisa memperoleh waktu cuti yang cukup, fasilitas yang layak, serta dukungan yang membuat perjuangannya jadi lebih ringan.


http://www.who.int/mediacentre/events/meetings/2015/world-breastfeeding-week/en/


Di media masa dan media sosial, cara raising awareness-nya adalah dengan mempromosikan segala sesuatu tentang ASI dan menyusui. Inilah mungkin, yang bikin linimasa kita jadi ramai dengan postingan tentang pertetekan selama seminggu kemarin. Mulai dari postingan poster dan infografis warna-warni, hingga berbagi pengalaman “sukses” ngASI dengan segala perjuangannya masing-masing.

Dengan penjelasan tadi, semoga kita bisa memahami bahwa perayaan WBW bukanlah soal posting foto sertifikat dan jumlah asi perah

Kalaupun ada ibu-ibu yang memajang sertifikat ataupun jumlah asi perahnya, nngggg... sepertinya sih nggak bisa diidentikkan bahwa perayaan WBW=pajang sertifikat dan stok asip, deh ya. 

Lagipula kalau kita biasa halan-halan ke grup-grup komunitas di facebook, beberapa forum menyusui juga sudah memiliki kebijakan tegas dalam mengatur masalah posting-memposting ini. Yakni, melarang membernya posting stok asi dan "pamer" berat badan bayi.

Jadi kalau kita nggak setuju sama pilihan seseorang untuk posting foto eksis bareng sertifikat atau pose-posenya di depan kulkas, ya sah-sah aja. Bukan berarti kita jadi batal merayakan atau ga ikutan mendukung Pekan ASI Sedunia.


Nah sekarang kalau teman kita postingnya di wall pribadi, gimana? 

Share atau Pamer?

Pertanyaannya adalah:

Apakah semua posting soal ASI dan menyusui dianggap pamer?
Apakah merayakan Pekan ASI Sedunia berarti nggak peduli sama perasaan Ibu-ibu lain yang “nggak bisa” memberikan ASI untuk anaknya?

Deayu, Ibunya Izan (5 tahun) dan Deeja (2,5 tahun) mengaku, jaman masih menyusui sering posting foto freezer berisi stok ASI. “Amazed aja sih sama diri sendiri. Eh gue bisa juga, ternyata!”, begitu alasannya.

Nisa, Mama dari Aurel (10 bulan) mengaku nggak kepikir sama sekali untuk pamer. “Memotret botol-botol berisi ASIP, lalu mengunggahnya ke Path adalah cara saya untuk memotivasi diri sendiri. Jadi pas capek banget dan produksi ASI turun karena saya mulai males memerah, foto itulah yang menyemangati bahwa kemarin kamu bisa kok. Yuk coba lagi”.

Sementara bagi Dinda, Bundanya Keanu (17 bulan) mengunduh sertifikat S1 ASI dan memajangnya di media sosial merupakan simbol penghargaan bagi Keanu, suami dan dirinya sendiri. “Sejak Keanu lahir, kami berproses dan belajar bersama. Saya belajar menyusui, dia belajar menyusu secara efektif, dan suami belajar percaya bahwa kami bisa. Ketika sudah mulai ditinggal kerja, Keanu juga belajar beradaptasi minum ASI perah menggunakan gelas. Piagam ini sekaligus menjadi pengingat bagi kami untuk terus belajar bareng, karena kami sadar jadi orang tua itu proses belajar tiada henti”.

Yesie, Mamanya Gaby (15 tahun) berpendapat, share dan pamer itu bedanya memang tipis. “Kadang-kadang kita niatnya share dikira pamer. Niatnya pamer malah dikira sedang share. Hahaha”, katanya sambil terbahak.

Sedangkan Riyana, bunda Alif (13 tahun), Lola (10 tahun), Abid (5 tahun), dan Asiya (2 tahun) menyatakan bahwa perbedaan persepsi itu tidak perlu didramatisir.

Arum Riddelcare, Mommy dari Akasha (3 tahun) dan Sitara (7 bulan) menilai, kalaupun memang pamer dan pembacanya jealous, itu pun wajar. “Jealous bisa bikin kita jadi termotivasi lebih baik. Asal jangan negative thinking aja”, tuturnya.

Persepsi, Cermin Kondisi Batin

“Ya kalo pikirannya udah negatif ya susah juga sih… ini sama dengan orang yang enggak membolehkan ada pisau di rumah karena pisau bisa membunuh orang” – kata Mas Mamat, dalam blognya yang berjudul, “Saya Ayah ASI, dan Merayakan World Breastfeeding Week”.

Padahal di rumah, pisau merupakan salah satu piranti utama dalam memasak. Masa hanya karena pisau “berisiko” membunuh orang, lantas kita jadi nggak mau pakai pisau sama sekali?

Saya setuju, bahwa mau nganggap orang pamer atau nggak, persepsi itu sebenernya bergantung sepenuhnya sama diri kita sendiri. Mau menanggapinya secara netral, positif, atau negatif, kita bisa memilih :)

Menariknya, konon cara pandang, respon seperti apa yang kita pilih (secara sadar, maupun tidak sadar) dalam menyikapi sesuatu ternyata ada hubungannya dengan kondisi batin.

Ketika batin pernah “terluka” oleh segala sesuatu yang berhubungan dengan pisau, biasanya respon kita terhadap pisau cenderung “negatif”. 

Mirip-mirip dengan pengalaman seseorang yang pernah dikhianati sama laki-laki. Karena lukanya tadi, ia bisa menganggap semua laki-laki adalah pengkhianat dan akhirnya memilih untuk nggak percaya sama sekali. Tiap liat orang gandengan, panas hati. Atau bisa juga sebaliknya, mulai kepingin menempuh hidup baru: punya pasangan, berkeluarga, anak-anak yang lucu. Tapi dilema.

Karena setiap ada yang ngedeketin, bawaannya nggak percaya melulu. Parno. Ga bisa move on dari pengalaman yang lalu. Akhirnya yang ngedeketin capek dan memilih untuk kabur. Secara tidak langsung dan tanpa disadari, perempuan tadi mengondisikan dirinya untuk terus menerus “sendiri”.

Dalam sebuah kesempatan, Mas Reza Gunawan, Papanya Keenan (11) dan Atisha (5 tahun), yang mendalami penyembuhan trauma, pernah berkata, “Batin yang luka itu ibarat air tawar yang kecemplungan garam”.

Itu sebabnya, seseorang yang pikirannya “negatiiiifff” melulu (karena punya luka) itu nggak akan bisa begitu saja diubah hanya dengan anjuran “ayo dong berpikir positif”. 

Seperti air garam ditambah gula yang rasanya justru akan mirip oralit, orang berpikiran "negatif" yang “dipaksa” mikir “positif” itu biasanya juga jadi “nggak jelas”. Di permukaan bisa berusaha manis, tapi makin berusaha manis dalemnya makin nano-nano. Kegalauan ini, kabarnya tidak bisa ditutupi terus-terusan. Persis seperti badan kita luka itu gimana sih… atau bisa juga diibaratkan seperti saat kita berusaha menyembunyikan sampah di rumah karena ogah bersih-bersih.


Menjadi Ibu: proses belajar seumur hidup

Social media itu tempatnya orang pamer. Jadi kalau nggak tahan lihat orang pamer ya ga usah mainan social media, lah.. hehehe,” celetuk Hera, Mamanya Aro (3 tahun) dan Ando (3 bulan).

So gimana dong kalau kenyataannya kita butuh gaul di pesbuk, tapi batin selalu terasa pedih bin perih setiap kali ngeliat ada orang lain punya “nasib” yang lebih "beruntung"?

Lalu ketika ada yang posting stok ASI melimpah, bawaannya gatal pingin komen:
“Ah, itu kan karena dia hiperlaktasi”
“Rejeki orang kan beda-beda. Emang udah takdir dan rejeki gue kasih formula.”



Barangkali, yang perlu kita lakukan memang menepi sejenak…. mengambil napas panjang, dan menyediakan waktu untuk mendengarkan suara hati:

Apa yang pernah terjadi dalam hidup saya – terkait proses kehamilan, proses persalinan, menyusui, menjadi istri dan Mama – yang diam-diam membuat saya kecewa dan – seandainya ada kesempatan – ingin saya ubah?

Apa yang pernah terjadi dalam hidup saya – terkait kasih sayang, cinta, keluarga, hubungan dengan orang dekat – yang nun jauh di lubuk hati sana… sejujurnya tidak ingin saya terima, namun pengalaman itu terpaksa saya telan? 

Apa yang terjadi dalam rangkaian hidup saya… yang membuat saya secara tidak langsung merasa perlu “membuktikan” bahwa saya mampu?

Apa yang membuat saya sulit menerima kenyataan ini?


...

Menjadi Ibu adalah peran seumur hidup yang nggak ada sekolahnya. Wajar dan amat sangat manusiawi, jika dalam perjalanan ini kita mengalami masa jatuh bangun, tersandung, terluka, berdarah-darah.

Tantangannya adalah, bagaimana cara kita menjalaninya? 
Bagaimana cara kita menyikapi luka?


Menjadikan luka itu sebagai motivasi untuk sembuh, atau justru sebaliknya: memilih terjebak dalam situasi - melarutkan diri dalam kecanduan penderitaan - alias menikmati posisi sebagai korban?


Agar selamat sampai tujuan - proses menyusui perlu dijalani dengan bekal ilmu yang memadai. 

Ilmunya sudah semakin mudah ditemui.

Tinggal bagaimana kita mengosongkan gelas agar lebih mudah diisi. 

Cari bantuan ahli jika memang memerlukan. Cari dukungan dari lingkungan yang membantu kita pada "kebenaran". Bukan sekadar mendukung ego kita yang memang selalu ingin dibenarkan dan terus-terusan memposisikan diri sebagai pihak tak berdaya - lalu bermudah-mudahan mengatasnamakan "takdir Tuhan" sebagai ajang pembenaran.

Salam :)

Selasa, 12 Mei 2015

Tentang TULISAN


Selalu ada cerita setiap kali bersua dengan teman-teman lama. Termasuk mereka, yang dulunya berkecimpung dalam dunia jurnalistik dan berbagai tulisan feature-nya tersebar di media massa.
Salah satunya adalah cerita, bahwa tulisan feature yang tertulis di majalah itu acap dibajak dan dikutip mentah-mentah. "Tahu-tahu,udah nongol aja jadi buku atau nongol di media online," kata kawan saya.

Cerita ini, tentu saja bukan kisah baru.

Mengutip sebagian tulisan tanpa menyertakan referensi, sudah menjadi perkara yang umum kita temui. Penyebabnya macam-macam. Mulai dari yang tidak disengaja contohnya adalah kurangnya pengetahuan si penulis. Bisa juga memang khilaf, tanpa ada latar belakang atau maksud apapun. Pokoknya lupa aja nulis referensi. Sementara yang disengaja, contohnya adalah ingin memposisikan diri sebagai "Si Pemilik Pemikiran". Ia paham peraturan, namun memilih abai dan tak peduli. Yang penting buku saya "bagus". Titik.

...

"Harusnya sih editor bisa jeli, ya. Karena kutipan mentah-mentah biasanya selalu punya nilai rasa yang berbeda dengan bahasa lain yang dipakai dalam tulisannya. Minimal ditanya ini sumbernya dari mana, gitu", kata teman saya lagi.

Saya setuju dengan ungkapannya itu. Teringat masa-masa menjadi editor media, tantangan terbesarnya (menurut saya) bukanlah menghasilkan tulisan, melainkan proses verifikasinya. Apakah tulisannya sudah memenuhi kriteria? bisa dipertanggunjawabkan? apakah referensinya valid? dan sebagainya-sebagainya. Itu sebabnya, sebuah tulisan memakan proses cukup panjang sebelum akhirnya disajikan pada pembaca.

"Tapi kalo editornya ngejar setoran yaaa udah ga kepikir juga kaliiii. Ditambah penulisnya ambisi. Kloppp dan rusaklah dunia ini. Hahaha," lanjut kawan tadi dengan tawa berderai.

Saya tersenyum. Pahit. Serasa diingatkan kembali.

Betapa pentingnya, menulis (dan mengedit) dilakukan secara "meditatif".

Mengenang betapa diri ini masih perlu belajar lagi. Karena khilaf, kepleset, nggak sengaja, bahkan secara sengaja melanggar tata krama itu biasanya terjadi saat ego sedang jadi panglima.
Karena ego tidak pernah mau "kalah". Sedangkan menulis referensi artinya menerima dan mengakui bahwa apa yang kita tulis bukanlah murni hasil pemikiran kita sendiri.

...

Untuk diri sendiri dan teman-teman yang senang menulis.

Menulis itu gampang. Segampang berhubungan intim.

Kamu bisa melakukannya kapan saja. Melalui berbagai cara. Sepanjang dirimu menginginkannya.
Yang barangkali perlu kau pahami sungguh-sungguh, tulisan sejatinya merupakan anak jiwa. Mereka lahir dari surga. Dititipkan Tuhan untuk menyampaikan pesan pada kehidupan di semesta, melalui rahim kita.

Maka, belajarlah untuk menulis dengan penuh tanggung jawab.

Lakukan dalam proses yang berkesadaran, menjunjung tinggi etika, dan penuh cinta.
Bukan sekadar mengejar target, memuaskan napsu, dan memanjakan egomu semata.