Foto saya
Mama dua anak, istri dari satu suami. Kini menjalani aktivitas sebagai konselor menyusui, doula persalinan, tukang motret, dan supir pribadinya anak-anak. Rumah ini berisi catatan randomnya, dalam belajar hidup sebagai manusia.

Minggu, 16 Februari 2014

Sarapan, Kebiasaan Baik untuk Masa Depan



dokumentasi pribadi / foto: Dyah Pratitasari


Jakarta, sore hari.

Seorang kawan, sebut saja namanya Rita, menelepon. Ia bercerita tentang Rama (7 tahun), putra semata wayangnya, yang baru saja menerima rapor di sekolah. “Gurunya bilang, Rama sering kelihatan ngantuk saat pelajaran. Gue bingung. Kenapa bisa begitu, ya?”, tutur Rita.

Menurut Sang Mama, jam tidur Rama cukup panjang. “Dia tidur jam sepuluh, bangun jam 5 pagi. Habis itu ya siap-siap ke sekolah,” tambah Rita. Mereka berangkat pagi-pagi sekali karena sekolah Rama berada di kawasan Jakarta Selatan, sementara rumah mereka terletak di Cibubur, Jawa Barat.

Usut punya usut, lantaran sering mengejar waktu di pagi hari tersebut, Rama jarang sarapan. Alasannya, waktu masih di rumah, Rama belum kepingin makan dan hanya menyeruput sedikit teh manis hangat atau minum susu. Sementara saat berada dalam perjalanan, Rama sering ketiduran. Efeknya, pas sampai di sekolah, perut Rama seringkali belum terisi makanan sama sekali.


Sebuah survei menyimpulkan, anak-anak di Indonesia tidak sarapan karena beberapa alasan. Mulai dari sulit dibangunkan (59%), menolak sarapan (19%), dan enggan menghabiskan makanan (10%). Sementara itu, sekitar 6% orangtua juga beranggapan, sarapan akan membuat anak-anak terlambat pergi ke sekolah. Dengan kata lain, kesibukan dan keterbatasan waktu yang kita miliki turut menyumbang andil anak-anak melewatkan sarapan sebelum mulai beraktivitas.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, terhadap 35.000 anak usia sekolah juga menemukan, bahwa kalaupun sarapan, anak-anak hanya mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat dan minum (23,7%), atau makanan berkualitas rendah (44,6%). Hanya 0,61 persen anak-anak yang mengonsumsi pangan lengkap saat sarapan, yang terdiri dari karbohidrat, protein, sayur, buah-buahan, dan air.

Pentingnya sarapan


Fenomena tersebut memerlukan perhatian khusus. Pasalnya, saat tidur di malam hari, perut kita berada dalam keadaan kosong. Kadar gula darah pun menurun.

Menurut Prof DR Ir Hardinsyah, MS, Ketua Umum PERGIZI PANGAN, sarapan berperan menyumbangkan 15 hingga 30 persen energi dalam sehari. Energi ini digunakan oleh tubuh sebagai bahan bakar beraktivitas, melakukan berbagai fungsi metabolisme, tumbuh dan berkembang, juga berpikir.

Bayangkan saat mobil kita kehabisan bensin. Ia akan mogok, tak mampu berjalan. Seperti itu jugalah kondisi tubuh kita saat bahan bakarnya kurang. Fungsi tubuh akan terhambat. Konsentrasi menurun, tubuh terasa kurang bergairah, stamina pun ikut terganggu.

Perut kosong karena tak sarapan juga membuat kadar gula dalam darah menurun drastis. Untuk mengimbanginya, tubuh memerlukan kadar gula secara cepat. Biasanya, kondisi ini bisa kita rasakan menjelang waktu makan siang. Kita menjadi lebih “rakus”, ingin makan dalam jumlah banyak, atau cenderung makan makanan yang manis-manis. Efeknya, orang yang tak terbiasa sarapan cenderung lebih berisiko terhadap pola makan yang kurang sehat, kegemukan, dan gangguan lainnya.

Karena efek dominonya itulah, para ahli merekomendasikan sarapan sebagai kebiasaan penting, bahkan menjadikannya sebagai salah satu pilar perilaku dan budaya makan sehat.

Sarapan sehat, seperti apa?


Hardin mengatakan, kita sering salah kaprah memaknai sarapan. Misalnya, minum air, kopi, atau teh manis, sudah dianggap sarapan. Demikian juga halnya saat makan sepotong roti, donat, atau telur ceplok, sudah dianggap sarapan.

Menurutnya, sarapan yang baik adalah yang memenuhi semua zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Mulai dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serat, juga air.


foto dipinjam dari www.danonenutrindo.org


Dalam praktiknya, zat-zat gizi ini dapat kita peroleh dari berbagai jenis sumber makanan. Karbohidrat, misalnya, tidak harus berupa nasi. Ia bisa berasal dari umbi-umbian, jagung, atau sereal. Protein bisa dikombinasikan dari sumber hewani (seperti ikan, ayam, atau daging) dan sumber nabati (seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan). Demikian juga dengan lemak, bisa diperoleh dari lemak baik seperti minyak zaitun, atau buah alpukat. Asupan vitamin, mineral, dan serat, kita peroleh dari sayur dan buah-buahan. Bahan-bahan makanan ini bisa kita olah menjadi beraneka macam sajian.


sumber karbohidrat, tidak harus nasi 


Jika boleh berbagi, di rumah saya, misalnya, menu sarapan diusahakan bervariasi. Baik jenis bahan makanannya, jenis hidangannya, juga warna-warnanya. Kalau hari ini sudah sarapan sup ikan wortel brokoli atau bubur oat labu kuning daging cincang, besoknya saya akan membuat sandwich dengan isi telur ceplok dan sayuran. Lusa, mungkin membuat nugget ayam dengan cocolan saus alpukat dengan wortel buncis sebagai pelengkap. 


bubur oat labu kuning daging cincang

Sup telur bakso ikan wortel brokoli. Bikinnya praktis sekali :)

Kadang-kadang, untuk menggugah selera anak-anak, saya juga menyajikan sarapan ala hotel, dengan menu sereal yang dilengkapi potongan buah dan susu. Sebagai pendamping sarapan, saya membuat jus buah segar, tanpa campuran gula.


Sarapan ala hotel, sambil duduk di teras rumah

Kok banyak banget?

Enggak juga, kok. Mengacu pada kebutuhan sarapan yang jumlahnya sekitar 15 hingga 30 persen dari kebutuhan gizi dalam sehari, kita bisa memainkan jenis-jenis makanan tadi dengan mengatur porsinya. Misalnya, apabila kebutuhan gizi harian berkisar antara 1500 hingga 2200 kalori, maka sarapan sebaiknya memuat 300 hingga 500 kalori. Jumlah ini dapat terpenuhi dengan setangkup kecil sandwich telur ceplok (dari satu lembar roti tawar gandum) dan segelas jus buah, atau satu mangkuk kecil sup ikan wortel kentang brokoli dan sepiring kecil buah potong.

Kelebihan porsi sarapan juga tidak baik, karena dapat membuat gula darah melonjak drastis. Ini ditandai dengan tubuh terasa “berat”, limbung, dan mudah mengantuk.

Agar sempat sarapan sehat


Terus… bagaimana caranya, dengan keterbatasan waktu yang ada, kita bisa menyiapkan sarapan berkualitas untuk keluarga?

Barangkali, kita dapat mencoba beberapa langkah di bawah ini bersama-sama:

·         Jadikan akhir pekan sebagai waktu berbelanja dan menyiapkan bahan makanan

Jika bekerja full time dari hari Senin sampai Jumat, kita bisa memanfaatkan hari Sabtu atau Minggu pagi untuk belanja ke pasar. Bahan-bahan makanan seperti ayam, ikan, dan daging bisa kita bumbui, kemudian disimpan ke dalam freezer. Sementara sayuran seperti brokoli, wortel, dan buncis, bisa kita cuci terlebih dahulu. Potong sesuai kebutuhan, masukkan ke wadah kedap udara. Jika perlu, buat daftar menu untuk beberapa hari ke depan. Dengan demikian, di pagi hari kita tinggal cemplung-cemplung, deh!

·         Bangun lima belas menit lebih pagi

Meskipun kelihatannya sepele, namun ada banyak hal yang bisa kita lakukan dalam lima belas menit. Misalnya, merebus sayuran, membuat omelet telur, dan menyiapkan buah potong. Kalaupun tak ada waktu khusus untuk sarapan di rumah, sayur-omelet-dan buah potong yang telah kita persiapkan tersebut bisa kita letakkan ke dalam wadah, dan dinikmati dalam perjalanan menuju kantor atau mengantar anak sekolah.

·         Siapkan sayuran segar secara khusus.

Untuk lebih menghemat waktu, saya juga sering menyiapkan sayuran segar seperti selada, potongan timun, atau tomat, di malam hari sebelum beranjak tidur. Dengan demikian, pada pagi harinya, saya tinggal mematangkan ikan, ayam, tahu, tempe, atau memasak lauknya saja.

·         Memanfaatkan makanan dalam kemasan

Saya percaya, salah satu syarat hidup sehat (dan bahagia) adalah bersikap jujur terhadap diri sendiri. Ada kalanya, saya terlalu lelah untuk membuat nugget homemade, memotong-motong buncis, atau menyiapkan makanan di pagi hari. Pada saat itulah, saya memanfaatkan makanan dalam kemasan seperti sayuran beku, nugget pabrikan (tetap pilih yang berkualitas!), dan sereal instan siap saji. Supaya lebih sehat, makanan dalam kemasan tersebut saya sajikan bersama makanan segar lain. Misalnya, nugget dipadukan cocolan alpukat segar dan sayuran rebus, sayuran beku dikombinasikan dengan fillet ikan panggang, dan sereal disandingkan bersama potongan pisang ambon dan taburan kismis.

·         Sarapan bersama di sekolah

Kalau makan di rumah benar-benar sulit untuk kita usahakan, cara lain, kita juga bisa mengajak pihak sekolah untuk ikut berperan aktif dalam menyosialisasikan pentingnya sarapan. Di beberapa sekolah yang saya kenal, pihak sekolah meluangkan waktu sekitar 15 menit sebelum pelajaran untuk memberi waktu siswanya menikmati bekal sarapan. Ada juga yang bekerjasama dengan pihak kantin, menyediakan katering bagi siswa yang tak membawa bekal. Sementara seorang sahabat (yang demi menghindari macet, harus berangkat pagi-pagi sekali untuk mengantar putrinya sekolah) aktif mengajak teman-teman anaknya untuk sarapan bekal bersama sebelum bel pelajaran dimulai.

Nah, kita bisa menjajaki mana yang paling memungkinkan, sesuai dengan situasi dan kondisi yang kita hadapi sehari-hari.

Selamat menyiapkan sarapan! :)




Referensi:
http://journal.ipb.ac.id/index.php/jgizipangan/article/view/7251

Foto:
dokumentasi pribadi - by Dyah Pratitasari

Jumat, 13 Desember 2013

Majestic Water Village Uluwatu, Impian Kami

Anak perempuan yang ada di foto ini namanya Velma. Sementara anak laki-laki yang rambutnya keriting itu, biasa dipanggil Jojo. Meskipun berbeda usia, keduanya sama-sama sedang hobi mengeksplorasi. Setiap kali diajak pergi ke alam terbuka (apalagi ketemu air!) bahagianyaaaaa bukan main.

perkenalkan, geng penggemar air!

Sayang, kesukaan mereka bermain di alam terbuka tak bisa terfasilitasi setiap hari. Meskipun saat berada di rumah, mereka bisa bermain air di kamar mandi, menciptakan “hujan” dari cipratan air yang mengalir melalui air keran, juga berenang dalam kolam karet di teras depan.

Maklum, kami tinggal di kota besar. Sebuah tempat dimana penglihatan tak lagi mampu menatap jauh ke depan. Lantaran terhalang gedung-gedung tinggi dan tembok bangunan.



Alam, tempat jiwa selalu pulang

Memangnya penting ya, main air di tempat terbuka?

Banget.

Di tempat terbuka, anak-anak bisa berinteraksi langsung dengan alam. Bercengkerama dengan sinar matahari, hembusan angin, gumpalan-gumpalan awan, juga sapaan daun dan pepohonan. Dari beberapa referensi yang pernah saya pelajari, interaksi dengan alam membuat anak-anak jadi lebih peka terhadap sesama.

http://www.majesticwatervillage.com
catat, ya ;)

 Mereka juga akan menganggap alam sebagai bagian dari hidupnya. Bahkan, menjadikannya sebagai “rumah”. Sebuah tempat, dimana jiwa akan selalu pulang. Merasakan ketenangan dan kedamaian. Seperti yang saya, juga ayahnya, rasakan.

Itu sebabnya, sudah menjadi kebiasaan bahwa setiap beberapa bulan sekali, kami meluangkan waktu untuk menyepi. Meliburkan diri dari segala rutinitas. Pergi ke sebuah tempat berpemandangan lapang, udara segar, gemericik air, atau deburan ombaknya mampu mengalahkan suara riuh rendah kota besar dan segala kegalauan di hati.



Majestic Water Village Uluwatu

dikelilingi kolam air

Tahun depan, salah satu destinasi impian kami adalah menginap selama beberapa hari di Majestic Water Village Uluwatu. Villa yang satu ini terletak di kawasan Uluwatu, Bali. Ia dibangun di atas tebing, dengan ketinggian sekitar 97 meter di atas permukaan laut.

Ya, tebing. Bukan bukit.


menghijaukan tebing cadas

Prioritas Land, pengembangnya, membangun Majestic Water Village Uluwatu di atas dataran tinggi yang gersang. Tujuannya, untuk menampung air sekaligus menghijaukan lingkungan sekitar. Di sini, sebanyak 32 vila telah berdiri. Masing-masing luasnya 350 meter persegi. Antara satu vila dengan vila yang lain dikelilingi oleh kolam air dan taman. Menariknya, kolam-kolam itu dialiri oleh air secara berkesinambungan. Mirip sungailah, kira-kira. Bedanya, sungai yang satu ini mengalir di atas batu karang.

Link videonya di sini:



Konon, Majestic Water Village Uluwatu berdiri atas inspirasi gaya arsitektur Mies Van Der Rohe, -seorang arsitektur Jerman. Nama Van Der Rohe tenar pada tahun 1950-an. Kalangan arsitek mengenalnya sebagai penganut setia konsep kesederhanaan sekaligus pemegang teguh prinsip kelestarian alam. Saat isu kembali ke alam belum menggema seperti sekarang, ia sudah familiar dengan praktik green architecture, enviromental friendly, dan renewable energy. Majestic Water Village Uluwatu mengunakan gas water heater, rain harvesting, and efficient electicity usage sebagai bentuk komitmen hemat energi.

Kesadaran terhadap hubungan manusia dengan lingkungan juga membuat villa ini mengusung slogan The Art of Beautiful Life. 


membayangkan tidur sambil melihat bintang

sambil mandi, bisa menikmati pemandangan

dari sini, saya akan mengawasi anak-anak yang bermain di kolam :)

Penerapannya, pendirian bangunan diusahakan agar mampu memanjakan kelima indera manusia. Mulai dari penglihatan, pendengaran, penciuman, sentuhan, juga pengecapan. Dengan kata lain, meskipun berada di dalam ruangan, kita tetap dapat merasakan kedekatan dengan alam. Mulai dari pemandangan yang elok, suara deburan ombak dan cicit burung aroma laut, hembusan angin membelai kulit, juga aneka rupa makanan yang siap dipesan dari restoran.

Hmm… belum apa-apa saya sudah membayangkan Jojo dan Velma tertawa lepas bermain air. Sementara saya dan ayahnya, akan mengambil napas panjang… tersenyum lebar, dan meluruskan kaki. Memandangi mereka sambil menyeruput es kelapa muda favorit kami. Membayar lunas hutang komunikasi yang tertumpuk selama ini.



Dikelilingi banyak pantai

Kalaupun bosan ngendon di villa seharian, dengan mudah saya bisa mengajak anak-anak “turun gunung”. Berdasarkan informasi yang saya kumpulkan, Majestic Water Village Uluwatu ini dikelilingi oleh banyak pantai. Mulai dari Padang Padang, Blue Point, Suluban, Bingin, juga Dreamland. Kabarnya, pantai-pantai tadi merupakan surganya pencinta surfing. Di sana anak-anak juga bisa bebas bermain, berkejaran, membangun istana pasir, sementara saya dan ayahnya pacaran lagi :p


http://www.flickriver.com/photos/taja2008/
saat senja, kawasan Uluwatu berwarna jingga

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhaMm7sB1wZBZyMMeHUMDHdVHtzTAx9IA4Y0d1wWCNRVq93ujmg0N084gBhHdaIyBGlbDJUAvkLYyuiyLDUDD9ejf485YFfcVVmTwRIRCVn3XFUpOk0M1IpnfOe3NWNI7BHjN1tUL24GL0/s1600/sunset-uluwatu-kecak.jpg
jamuan selama menanti matahari tenggelam

Bagaimana tidak. Menjelang matahari terbit atau terbenam, suasana di sana selalu romantis dan magis. Saat mentari terbangun di ufuk timur, kita bisa menikmati sinarnya yang berwarna keemasan. Ketika nanti ia pulang ke peraduan, langit akan berhiaskan rona jingga kemerahan. Suasana itu bisa kita nikmati juga saat mengunjungi Pura Uluwatu. Sekalian menyaksikan pertunjukan tari Kecak yang popularitasnya sudah melegenda di berbagai penjuru dunia. Sayang kan, kalau sampai terlewatkan? ;)



Cocok untuk berinvestasi

Lucunya, saat nama Majestic Water Village Uluwatu saya ajukan ke suami, dia langsung semangat browsing sana-sini.  Daannnn, yang pertama kali terlontar dari mulutnya adalaaahhh, “Wih, tempatnya menjanjikan banget tuh untuk investasi!”

Menurutnya, Majestic Water Village Uluwatu ini bukan sekadar tempat liburan yang menjanjikan fasilitas langka. 

“Dia punya banyak nilai plus untuk siapapun yang ingin mengamankan nilai uangnya di masa depan. Hari gini, gitu loh. Kalau nggak investasi, nilai uang bakalan tergilas habis oleh laju inflasi,” tutur suami saya, dengan raut wajah serius.

Kalau dipikir-pikir, iya juga, sih.

Selain beberapa hal yang sudah saya ceritakan tadi, ada beberapa nilai plus yang membuat villa rancangan Paul Tan ini memiliki nilai investasi sangat tinggi.



Pertama, Uluwatu merupakan kawasan yang banyak disukai wisatawan. Letaknya dekat dengan Bandara Internasional Ngurah Rai. Dengan mobil, biasanya hanya butuh waktu 30 hingga 45 menit sampai ke lokasi. Setiap tahun, jumlah turis yang berkunjung pun selalu meningkat. Wisatawan asing, misalnya, mengalami kenaikan sebesar 10 persen per tahun. Sedangkan wisatawan domestik mencapai 16 persen.

Kedua, jika kita termasuk orang yang percaya dengan hoki, Majestic Water Village Uluwatu ini dirancang menggunakan formasi Wang Shan Wang Shui. Dalam ilmu feng shui, Wang Shan Wang Shui artinya rumah yang membawa kebaikan untuk manusia, sekaligus memberikan keberuntungan bagi keuangan. Alasannya, bentuk lahan villa tersebut mirip bentuk binatang yang memiliki energi dinamis, disebut “Formasi Kura-kura Menatap Tujuh Bintang Utara”. Sebagian kalangan meyakini, pemilik lahan di atasnya akan mengalami kemakmuran, bahkan mewariskan kemakmuran tersebut pada anak cucunya.

Ketiga, kalaupun kita tidak mempercayai konsep feng shui, Majestic Water Village Uluwatu dikelola langsung oleh Hospitality Premier Management. Mereka telah sukses mengelola berbagai private villa dan boutique resort di berbagai area di Bali, seperti Canggu, Jimbaran, Nusa Dua, Seminyak, dan Tanah Lot. 

Return of Investment (ROI) dari masing-masing villa itu berkisar antara 9 hingga 15 persen per tahun. Hitung-hitungan kasarnya, tanpa perlu memikirkan tetek bengek pengelolaan villa, nilai keuntungan yang akan kita terima sudah terpampang jelas di depan mata. Mau digunakan sendiri, disewakan, ataupun dijual kembali, nilainya akan tetap tinggi.

Pantas saja jika saat ini Majestic Water Village Uluwatu laris manis. 
Dari 32 unit yang tersedia, 30 di antaranya sudah sakseissss dipinang orang!

 :D



Referensi dan gambar, diperoleh dari:




Rabu, 02 Oktober 2013

Ibu yang baik itu, seperti apa?


 
dipinjam dari sini


Tadi pagi, saya mengajak Jojo ke taman dekat rumah.

Di saat ia bermain ayunan, tanpa sengaja telinga ini menangkap suara dua orang Ibu yang berada sekitar dua langkah di dekat kami, sedang berbincang-bincang.

Satu di antaranya berkata, "Ibu yang baik itu ya ibu yang tinggal di rumah saja!". Biar dekat sama anak-anaknya. Biar bisa menyambut suaminya sepulang bekerja. Biar bisa bikin makanan sendiri buat keluarganya.

Ibu yang lain menanggapi senada, dan akhirnya menekankan sebuah kalimat yang bunyinya, "Yaaa... yang kayak kita-kita inilah!"

...

Saya tidak kenal siapa mereka, statusnya apa, dan lain sebagainya. Saya juga memilih tersenyum saja ketika salah satu dari mereka menyapa dengan retorika, "Ya nggak, Bu?," lalu berpamitan ketika Jojo sudah menyelesaikan permainannya.

Cukup menjadi catatan pribadi,

Bahwa bagi saya, Ibu yang baik tidak ditentukan dari apa status pekerjaan dan aktivitasnya.

Bagi saya, Ibu yang baik adalah ketika seorang Ibu mampu memahami tujuan hidupnya sendiri, menjalani segala prosesnya dengan sadar, serta memilih untuk berbahagia. Apapun kondisinya.

Ibu yang bahagia, akan merasa aman dan nyaman.
Ibu yang aman dan nyaman, biasanya tidak akan berusaha membandingkan, juga mencari-cari alasan agar pilihannya dibenarkan :)